aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Anak Sering Dibentak, Kesehatan Mentalnya Bisa Terganggu di Masa Depan

Tuesday, 26 May 2020 04:00:23 WIB | aura.co.id
Anak Sering Dibentak, Kesehatan Mentalnya Bisa Terganggu di Masa Depan
Berteriak-teriak pada anak hanya akan menimbulkan masalah di kemudian hari. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Ada saja tingkah anak-anak yang membuat jengkel hingga tanpa disadari nada bicara Anda melengking. Bahkan, membentak untuk menghentikan kenakalan anak. Bu, ada sejumlah fakta penting yang sebaiknya Anda indahkan sebelum mempersering frekuensi teriakan untuk si buah hati.

Nada Bicara Meninggi, Respek Merendah

“Pekerjaan nomor satu Anda sebagai orangtua, selain memastikan keselamatan anak, adalah mengendalikan emosi,” imbau psikolog lulusan Universitas Columbia, Laura Markham, Ph.D, yang juga menulis buku Peaceful Parent, Happy Kids: How to Stop Yelling and Start Connecting. Ya, berteriak-teriak kepada anak tak akan menyelesaikan masalah. Malah, menimbulkan masalah baru di kemudian hari.

Anak-anak sangat bergantung kepada orangtua dalam belajar. Jika kemarahan diasosiasikan dengan teriakan, anak akan menganggap berteriak hal yang lumrah. Kemudian, perilaku anak kelak akan merefleksikan teriakan itu. Selain itu, bicara dengan berteriak dan membentak membuat pesan yang ingin Anda sampaikan menjadi tidak jelas. Anak anak tidak akan menangkap pesan di balik teriakan. Sebaliknya, Anda semakin kesulitan mendisiplinkan mereka mengingat setiap kali Anda meninggikan
nada bicara, respek anak terhadap Anda menurun.

Dalam studi yang dilakukan di Universitas Kesehatan Nasional di Bethesda, Maryland, AS, dikatakan bahwa berteriak membuat anak lebih agresif, baik secara fisik maupun verbal. Berteriak, apa pun konteksnya, merupakan ekspresi kemarahan. Itu menakutkan bagi anak, membuat mereka merasa tidak aman. Dan yang tak penting, menjatuhkan harga diri mereka.

Dampak jangka panjangnya, anak yang sering mendengarkan teriakan bisa terkena gangguan kesehatan mental seperti kecemasan berlebihan, rendah diri, dan lebih agresif. Selain itu, anak-anak menjadi lebih rentan terhadap tindak perundungan karena pemahaman mereka tentang batasan dan harga diri amat rendah. Bu, teriakan Anda buat si kecil tidak hanya memantik efek jangka panjang.

Kelembutan dan Efek Jera

Nada tinggi yang ada lantunkan untuk mendisiplinkan anak juga menciptakan efek jangka pendek yang tercermin pada perilaku si buah hati, antara lain:

1. Anak akan berteriak untuk mendapatkan keinginannya.
2. Saat Anda berteriak, anak akan melawan bahkan berteriak kembali kepada Anda serta segan bicara dengan sopan.
3. Hubungan Anda dan anak tidak stabil karena tidak bisa berkomunikasi secara sehat.
4. Bisa jadi, mereka menarik diri dari Anda dan menjadi lebih terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya.

Sebaliknya, kelembutan memberi ketentraman. Anak merasa diterima serta dicintai. Ketika mereka melakukan hal buruk, menegur mereka dengan kelembutan justru memberi efek jera yang lebih efektif. Nada bicara lembut membuat pesan yang disampaikan terdengar lebih jelas, komunikasi lebih
efektif, dan menguatkan hubungan emosi orangtua dan anak.

Ketika anak merasa aman dan dicintai tanpa syarat, akan lebih mudah bagi orangtua untuk mendisiplinkan mereka. “Anak-anak akan lebih terbuka dengan dialog dan mendengarkan sebelum konflik berkembang menjadi adegan penuh teriakan dan amarah,” papar dokter spesialis anak dari Rumah
Sakit Anak Wisconsin, AS, Laura Marusinec, MD.

Anak-anak memang sering berlaku buruk. Itu bagian dari proses tumbuh kembang mereka. Tugas Anda, memberikan pemahaman mana yang baik dan buruk dengan lembut, jelas, serta tidak menyakiti hati mereka. Tapi sesabar-sabarnya orangtua, sesekali tentu lepas kontrol lalu berteriak. Jika terlanjur terjadi, apa yang harus dilakukan orangtua?

Ketika situasi sudah terkendali, dekati anak lalu minta maaf. Jelaskan bahwa Anda tidak bisa mengendalikan emosi. Katakan padanya dalam situasi apa pun, berteriak bukan cara berkomunikasi yang baik. Tidak perlu malu untuk berkata, “Maaf, karena ibu telah berteriak-teriak tadi. Ibu salah, karena sudah berteriak-teriak. Lain kali, tidak akan ibu lakukan lagi.” Dengan begitu anak belajar semua orang bisa melakukan kesalahan. Karenanya, mereka patut minta maaf. Tanpa teriakan dan marah-marah,
ibadah puasa Anda akan berjalan lebih khusyuk. 

Komentar