aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

4 Cara Agar Anak Tumbuh Jadi Pribadi yang Percaya Diri

Wednesday, 20 May 2020 04:00:23 WIB | aura.co.id
4 Cara Agar Anak Tumbuh Jadi Pribadi yang Percaya Diri
Rasa percaya diri anak tidak tumbuh dengan sendirinya. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Rasa percaya diri anak tidak tumbuh dengan sendirinya. Anak membutuhkan dukungan dari lingkungan terdekatnya agar tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri. Dr. Roseanne Lesack, psikolog bersertifikat dan Direktur Yayasan Klinik Anak Unicorn di Universitas Nova Tenggara, Florida, AS menekankan peran orang tua dalam membentuk rasa percaya diri anak. Berikut beberapa kiat yang bisa dilakukan orang tua.

Biarkan Anak Mencoba

Tahan diri untuk langsung membantu saat anak mencoba menyelesaikan tugasnya. Laura Markham Ph.D., psikolog klinis dari Universitas Columbia, AS, mengungkapkan orang tua yang terlalu khawatir akan membatasi kemampuan anak. "Cukup dampingi anak, tersenyum, dan selalu siap membantu hanya ketika mereka membutuhkan," ucap penulis buku Peaceful Parent, Happy Kids: How to Stop Yelling and Start Connecting ini.

Laura juga berpesan agar orang tua rutin menyemangati anak dengan kalimat yang positif. Misalnya kalimat "berlatih untuk mencapai kemajuan!" atau "jika gagal, coba, dan coba lagi". Kalimat ini akan menjadi pengingat anak saat menghadapi kegagalan. "Mereka akan membutuhkan suara dari dalam diri yang otomatis muncul dan menenangkan serta memotivasi mereka. Bila anak tidak punya pengingat ini, kritik yang pedas dari dalam diri akan muncul dan memicu kekecewaan," sambung Laura.

Puji Anak

Pujian tidak harus selalu berpatokan dengan hasil. Tentu, orang tua boleh memuji anak karena berprestasi dan berperilaku baik. Namun jangan abaikan upaya dan kegigihan anak dalam melakukan sesuatu. Beri penghargaan anak lewat pujian untuk kerja kerasnya, meski anak masih membentur kegagalan. Cara ini akan membuat anak percaya terhadap dirinya dan kemampuannya.

Jangan sampai anak merasa tidak berharga saat menghadapi kegagalan, yang rentan memicu krisis kepercayaan diri. "Anak-anak harus bisa mengatakan, ‘Saya percaya diri di bidang ini, karena saya bekerja keras. Saya sudah berlatih. Saya ingin jago melakukan ini.’ Itu adalah hal yang bagus,” kata Roseanne.

Saat memuji anak, sebut kelebihannya secara spesifik. Misalnya saat anak berhasil mencetak gol dalam pertandingan sepak bola. Dibanding hanya mengatakan permainan anak bagus, Anda bisa memuji teknik tendangan anak yang bagus atau kemampuannya berlari kencang. Pujian yang spesifik pada momen yang tepat akan membuat anak mengenali kelebihannya.

Beri Tahu Kekurangan Anak

Sebaliknya, anak juga harus mengetahui kekurangannya. Tujuannya, agar anak tidak arogan akan pencapaiannya. Ungkapkan kekurangan anak secara hati-hati dengan pilihan kata yang menyemangati anak. Karena Anda juga harus mendorong anak memperbaiki kekurangannya.

Jangan sampai melukai hati anak, yang justru membuat mereka rendah diri. Beri tahu anak, sebagian orang memang harus berlatih keras untuk mencapai sesuatu. Namun itu bukan salah anak dan ia pasti bisa, selama berusaha. Akhirnya, anak belajar meningkatkan harga dirinya dengan bekerja keras.

Puji Diri Sendiri

Sebagai peniru yang ulung, anak akan mencontoh kebiasaan orang tuanya. Jika ingin anak percaya diri, orang tua juga harus punya rasa percaya diri. Orang tua bisa menunjukkan rasa percaya diri dengan membicarakan pencapaian mereka sendiri. "Saya sudah bekerja sangat keras pada proyek ini dan saya bekerja dengan baik karena saya serius mengerjakannya," Roseanne mencontohkan. Namun pastikan Anda tidak mengada-ada. Ingat, anak menyerap semua kebiasaan orang tuanya.

Komentar