aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

5 Perbuatan yang Tanpa Disadari Membuat Anda Masuk Kategori Toxic Parents

Thursday, 21 November 2019 04:00:23 WIB | Rizki Adis Abeba
 5 Perbuatan yang Tanpa Disadari Membuat Anda Masuk Kategori Toxic Parents
Anak berhak dilahirkan dalam keluarga bahagia yang mencintai mereka seutuhnya. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Anak berhak dilahirkan dalam keluarga bahagia yang mencintai mereka seutuhnya. Kenyataannya, banyak anak tumbuh dengan orang tua yang destruktif dan dalam lingkungan yang tidak stabil. Lebih buruk lagi, tidak semua orang tua menyadari, perlakuan mereka pada anak dapat merusak fisik dan mental anak. Perlakuan seperti inilah yang memicu istilah toxic parents.

Toxic berarti mengandung racun. Istilah toxic parents tidak hanya ditujukan kepada orang tua dengan perilaku buruk seperti melakukan kekerasan fisik dan verbal terhadap anak. Toxic parents juga dialamatkan kepada orang tua dengan tindakan yang dapat meracuni kondisi psikologis dan emosional anak. Ini lebih berbahaya, karena toxic parents jenis ini tidak kasat mata. Dari luar, mereka terlihat seperti orang tua normal. Mereka memenuhi kebutuhan fisik anak, tidak melakukan kekerasan, tidak menyakiti fisik anak, dan menginginkan yang terbaik untuk anak.

Sebagai manusia, orang tua pun tidak luput dari kesalahan. Untuk itu kami mengingatkan, perbuatan apa saja yang tanpa disadari membuat Anda masuk dalam kategori toxic parents?

Membuyarkan impian

“Untuk apa jadi musisi? Lebih baik kamu pilih sekolah kedokteran atau penerbangan, titik.” Jika Anda memaksakan anak untuk mengubah cita-cita sesuai kehendak Anda, berarti Anda toxic parents. Tanpa disadari Anda membuyarkan impian, melemahkan semangat, dan menurunkan kepercayaan diri anak.

Jika cita-cita anak ternyata berbeda dengan harapan Anda, kompromilah. Ada, lo seorang teman SMA kami yang berhasil jadi dokter, tetapi tetap menekuni profesi DJ. Sikap kompromistis tidak hanya akan menghindari konflik antara orang tua dan anak, tetapi akan menerbitkan solusi yang menguntungkan semua pihak.

Menyela ucapan

“Tidak ada tapi-tapi, pokoknya kalau Mama bilang A, ya harus A.” Saat berdiskusi dengan anak, Anda menganggapnya sebagai pertarungan debat. Setiap ada ketidaksepahaman, Anda cenderung mendebat dan memotong ucapan anak. Tahukah Anda rasanya dituntut selalu mendengarkan tetapi tidak pernah didengarkan? Sakitnya, tuh di sini (tunjuk ke dada). Anak yang merasa tidak nyambung saat bicara, berdiskusi, apalagi curhat kepa\da orangtua akan cenderung mencari kenyamanan dari orang lain di luar rumah. Yakin, Anda siap diduakan dengan sahabat atau pacar anak?

Menghambat kemandirian

Anak ingin makan sendiri, tidak boleh karena takut berantakan. Anak ingin mandi sendiri, dilarang karena takut terpeleset. Anak ingin pilih baju sendiri, Anda marah karena membuat lemari berantakan. Jangan terus menganggap anak sebagai bayi. Seiring bertambahnya usia, kemampuan hidup anak meningkat. Berikan kepercayaan bagi mereka, yang perlu Anda lakukan hanya mengawasi dan memberi bantukan ketika dibutuhkan.

Membicarakan keburukan anak di depan orang lain

Bahkan ucapan sesepele “waduh, anakku, sih paling susah disuruh bangun pagi” termasuk dalam kategori membicarakan keburukan anak. Anak juga punya harga diri. Membicarakan keburukan anak di depan orang lain, apalagi didengar langsung anak adalah perbuatan yang melukai hati, meruntuhkan kepercayaan diri, menumbuhkan sifat rendah diri, dan mempermalukan. Berhati-hatilah saat membicarakan soal anak kepada orang lain. Jagalah privasi anak seperti Anda ingin privasi pribadi Anda terjaga rapi.

Mengungkit kesalahan

Ketika anak berbuat salah dan telah menyadari kesalahannya, tidak perlu terus mengungkit. Namun tanpa disadari orang tua melakukannya. Misalnya, ketika anak jatuh karena berlari-larian meski telah diperingatkan. Tidak perlu menambah sakit fisiknya dengan sakit batin karena Anda mengoceh, “Makanya, sudah tahu enggak boleh lari-larian, kenapa malah lari?” Jangan jadikan kesalahan anak sebagai ajang memperburuk situasi. Tanpa Anda ocehkan pun anak tahu perbuatannya salah. Pilih kalimat positif, misalnya, “Sudah, sini jalan pelan-pelan supaya tidak jatuh lagi.”

Komentar