aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Ini Kondisi Genetika Yang Membuat Seseorang Tidak Suka Makan Sayuran

Friday, 15 November 2019 14:00:12 WIB | Rizki Adis Abeba
Ini Kondisi Genetika Yang Membuat Seseorang Tidak Suka Makan Sayuran
ilustrasi anak makan sayur (deposit photos)

TABLOIDBINTANG.COM - Penelitian terbaru yang akan dipresentasikan di Sesi Ilmiah Asosiasi Jantung Amerika 2019 pada 16-18 November di Philadelphia, AS, menyebutkan bahwa ada kondisi genetika yang menyebabkan seseorang tidak bisa mentoleransi rasa sayuran. Bagaimana itu bisa terjadi?

Jennifer L. Smith, Ph.D., RN, penulis studi dan rekan pascadoktoral dalam ilmu kardiovaskular di Fakultas Kedokteran Universitas Kentucky di Lexington, AS, menjelaskan setiap orang mewarisi dua jenis gen rasa yang disebut TAS2R38. Namun perbedaan varian gen yang dibawa seseorang bisa sangat memengaruhi preferensi makanan mereka.

Orang yang mewarisi dua jenis varian yang disebut AVI tidak peka terhadap rasa pahit dari bahan kimia tertentu. Sedangkan mereka yang memiliki satu jenis AVI dan satu varian yang disebut PAV bisa merasakan rasa pahit dari bahan kimia yang sama. Dan pada individu dengan dua jenis PAV, atau biasa disebut sebagai “super-taster” biasanya sangat peka terhadap rasa pahit.

“Orang-orang ini cenderung merasa brokoli, kecambah brussel, dan kol adalah makanan yang sangat pahit, dan mereka juga dapat bereaksi negatif terhadap cokelat hitam, kopi, dan terkadang bir,” kata Jennifer L. Smith.

Para peneliti juga menganalisa kuesioner frekuensi makanan dari 175 orang dengan usia rata-rata 52 dan lebih dari 70 persen di antaranya perempuan. Mereka menemukan bahwa orang yang mempunyai gen PAV lebih dari dua setengah kali cenderung tidak menyukai sayuran karena merasa pahit. Dan rasa pahit itu tidak berkaitan dengan seberapa banyak penambahan bumbu penyedap seperti gula dan garam.

“Kami pikir mereka mungkin mengambil lebih banyak gula dan garam sebagai penambah rasa untuk mengimbangi rasa pahit dari makanan lain, tapi bukan itu masalahnya. Kami berharap dapat menggunakan informasi genetik untuk mencari tahu sayuran mana yang mungkin lebih dapat diterima oleh orang dan untuk mengetahui bumbu apa yang menarik bagi para super-taster sehingga kami dapat membuatnya lebih mudah untuk makan lebih banyak sayuran,” tandas Jennifer L. Smith.

(riz / ray)

Komentar