aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Yang Perlu Diwaspadai Ketika Bayi Sering Menatap Ke Arah Langit-Langit

Saturday, 9 November 2019 08:00:26 WIB | Rizki Adis Abeba
Yang Perlu Diwaspadai Ketika Bayi Sering Menatap Ke Arah Langit-Langit
Ilustrasi bayi menatap langit-langit (Deposit Photos)

TABLOIDBINTANG.COM - Bayi yang baru lahir kerap terlihat asyik menatap ke arah langit-langit ruangan. Tidak perlu khawatir, fenomena tersebut merupakan hal yang normal. Dr. Sanam Hafeez, PsyD., dokter ahli saraf dari New York, AS, menyebutkan kondisi itu terjadi karena bayi sedang menyesuaikan diri dengan lingkungan serta mengembangkan kemampuan visual.

Yang perlu diwaspadai, jika kebiasaan menatap ke langit-langit itu berlanjut setelah bayi berusia lebih dari 16 minggu. “Jika Anda tidak bisa merebut perhatian bayi dari langit-langit bahkan sebentar saja, mungkin ada hal lain yang terjadi,” Sanam Hafeez memperingatkan.

“Perhatikan pula jika mereka tidak mengenali wajah-wajah yang konsisten dan sering muncul seperti ibu dan ayah. Mungkin itu waktunya berkonsultasi ke dokter anak Anda,” lanjutnya.

Senada dengan Sanam Hafeezm Dr. Mary Kohn, dokter anak di Rumah Sakit Universitas Colorado, AS, mengatakan bahwa Anda harus mempertimbangkan usia bayi ketika mereka melakukan kebiasaan menatap ke langit-langit kamar. Menurut Mary Kohn, kebiasaan itu sangat normal bagi bayi yang baru lahir, namun tidak normal bagi bayi yang sudah berusia lebih dari empat bulan.

“Bayi yang baru lahir hanya bisa melihat benda dengan jarak enam hingga sembilan inci (sekitar 15 hingga 22,5 cm),” ungkap Mary Kohn. Bayi baru bisa melakukan kontak mata dengan Anda pada usia rata-rata sembilan minggu. Ketika mereka asyik menatap langit-langit ruangan, mungkin ada sebuah kontras yang menarik bagi mereka, seperti bayangan atau warna.

“Bayi biasanya tertarik pada sesuatu yang kontras. Misalnya, alih-alih melihat ke arah luar jendela, mereka lebih tertarik melihat titik di mana jendela berbatasan dengan kusen, atau ketika cahaya bertemu dengan kegelapan,” urai Mary Kohn.

(riz / ray)

Komentar