aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Yang Tak Diketahui Orang Tua tentang Sepak Terjang Remaja di Medsos

Wednesday, 14 August 2019 23:00:23 WIB | Rizki Adis Abeba
Yang Tak Diketahui Orang Tua tentang Sepak Terjang Remaja di Medsos
Remaja disebut kelompok masyarakat dengan intensitas penggunaan internet tertinggi. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Remaja disebut kelompok masyarakat dengan intensitas penggunaan internet tertinggi. Menurut data yang dirilis situs web Socialmediatoday pada 2017 lalu, rata-rata remaja menghabiskan waktu hampir 9 jam per hari. Mereka bermain internet dengan alokasi waktu rata-rata 30 persen untuk media sosial. Tak kurang dari 60 persen remaja mengakses internet via ponsel.

Bisa Mengirim Foto Telanjang

Sementara itu, rata-rata orang dewasa menghabiskan waktu dua hingga lima jam per hari untuk mengakses internet, termasuk medsos. Dengan intentitas waktu pemakaian internet dan medsos yang lebih tinggi, remaja merupakan kelompok yang sangat lihai bermain medsos.

Itu sebabnya, meski orang tua merasa sudah mengawasi sepak terjang anak remaja di medsos, mereka tetap bisa kecolongan. Mengingat, remaja pandai menyimpan rahasia di medsos. Apa saja yang disembunyikan para remaja dari orang tua mereka di medsos?

(Depositphotos)
(Depositphotos)

Skiper Coates, guru kelas sembilan di sekolah menengah pertama Pleasant Grove, Utah, AS, membuat survei. Dalam survei itu, Skiper bertanya, “Yang tidak diketahui orang tuaku tentang media sosial adalah…” Dari 85 siswa yang diminta mengisi kuesioner itu, hanya lima siswa yang mengaku tidak bermain medsos. Sementara 80 siswa sisanya menguak fakta-fakta mengejutkan tentang kehidupan remaja di medsos.

“Saya tetap bermain medsos sampai jam 2 pagi setiap hari,” tulis seorang siswa. “Kau bisa mengirim foto telanjang, jual beli narkoba, membuat kata sandi untuk mengunci foto-foto dan status teks,” tulis siswa lainnya. “Saya menyumpahi dan mencaci maki semua orang. Saya mendapat kiriman foto telanjang dari cowok yang tidak saya kenal,” ungkap seorang siswa. “Akun palsu saya bisa membuat saya mengekspresikan diri dan meluapkan frustrasi,” yang lain menjawab.

Sebagian besar remaja punya akun Instagram lain selain akun utama untuk menyamarkan identitas sekaligus menyembunyikan aktivitas medsos mereka dari orang tua. Bahkan, kini muncul istilah f-Insta atau fake Instagram (akun Instagram palsu) dan r-Insta alias real Instagram (akun Instagram asli). F-insta dan r-insta merupakan dua dunia yang memungkinkan remaja menjelma menjadi dua pribadi berbeda tanpa diketahui orang terdekat.

Akun Palsu dan Tempat Pelarian

Dengan f-Insta, mereka bebas mengunggah apapun, menulis apapun, termasuk berkomentar kasar di akun orang lain. Sementara r-Insta untuk membangun citra positif. Mengapa remaja perlu mengekspresikan diri (secara negatif) di medsos? Psikolog dari Universitas Brigham Young, Utah, AS, Lee Essig Thunnel, menyebut remaja butuh wadah untuk mengeluarkan emosi negatif.

(Depositphotos)
(Depositphotos)

“Ketika stres, kecewa, atau sedih, mereka senang meluapkan perasaan untuk membuang emosi negatif. Ketika mereka merasa lega setelah meluapkannya di medsos, hal itu menjadi awal dari perilaku kecanduan. Bukan tentang gratifikasi berupa komentar dan perhatian dari warganet, namun lebih kepada cara keluar dari kepedihan,” urai Thunnel.

Mungkin saja si kakak tidak membuat akun palsu dan tidak menolak permintaan pertemanan dengan Anda di medsos, namun bukan berarti mereka tidak bisa bersembunyi. Saat ini, Instagram dilengkapi pengaturan close friend yang memungkinkan pemilik akun memilih siapa saja orang yang bisa melihat unggahannya. Ada pula hidden story yang membuat mereka bisa menentukan siapa saja yang tidak boleh melihat unggahan video di fitur Instagram Story.

Jika Anda tahu si kakak pengguna aktif Instagram namun tidak pernah melihat unggahan terbarunya, Anda patut curiga mereka sedang menyembunyikan sesuatu. Lantas bagaimana memastikan kegiatan si kakak di medsos benar-benar sehat dan tak ada yang disembunyikan?

Cobalah berkomunikasi, membangun kepercayaan, dan jadilah teman yang asyik di dunia maya maupun nyata. Bicaralah dari hati ke hati agar anak tidak butuh tempat pelarian berupa akun palsu di medsos. Yang tak kalah penting, Anda harus peka dengan kondisi emosional anak. Perilaku tidak sehat di medsos bisa dilihat dari kondisi psikis dan fisik anak sehari-hari. Perhatikan apakah ia terlihat murung, gelisah, atau mencandu gawai? Jika ya, waspadalah. Bisa jadi ada yang tidak benar dengan kehidupan anak Anda di jagat maya.

(riz)

Komentar