aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Usia yang Tepat Anak Mulai Diberikan Pendidikan Seks

Tuesday, 23 July 2019 03:00:23 WIB | Agestia Jatilarasati
Usia yang Tepat Anak Mulai Diberikan Pendidikan Seks
Pendidikan Seksual kepada anak bisa diperkenalkan sejak dini. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Pendidikan seksual kepada anak tak bisa diabaikan lagi. Tak ada lagi istilah tabu karena kalau orang tua terlambat atau bahkan tidak memberikan pendidikan seksual sama sekali maka akan berdampak buruk contohnya adalah si anak yang tak mengerti apa itu pelecehan atau kejahatan seksual. Namun dari mana dan kapan orang tua harus mulai mengenalkan pendidikan seksual kepada anak?

Sedini Mungkin

Banyak orang tua masih menganggap bahwa membicarakan soal hal sensitif seperti pendidikan seksual adalah tabu untuk dibicarakan ke anak. Psikolog dari rumah sakit Jogja International Hospital sekaligus pendiri dari Analisa Personality Development Center, Analisa Widyaningrum, M.Psi pun memahami benar bahwa pendidikan seksual menjadi tantangan tersendiri untuk para orang tua. Meski begitu ia mengatakan bahwa mau tak mau, pendidikan seksual harus diajarkan ke anak sebagai bekal kehidupan si anak nantinya.

Namun terkadang para orang tua bingung tentang kapan dan bagaimana mengajarkan soal pendidikan seksual kepada anak. Analisa menyebut bahwa pendidikan seksual harus diajarkan kepada anak sedini mungkin. Bahkan sejak 5 tahun pertama kehidupan, anak sudah bisa dikenalkan seputar pendidikan seksual.

(Depositphotos)
(Depositphotos)

“Pendidikan seksual kepada anak bisa kita kenalkan kepada anak sedini mungkin. Namun memang materi pengajarannya harus disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Kalau berusia 0-2 tahun, anak mulai belajar memanfaatkan sensori motorik. Nah, di usia ini kita bisa mengajarkan soal pendidikan seksual melalui toilet training yang dapat membantu anak mengenali anggota tubuhnya sendiri. Kemudian memasuki tahap pra operasional di usia 3-5 tahun, anak diajarkan kalau mau buang air enggak bisa di sembarang tempat sehingga anak akan mengerti bahwa ada bagian tubuhnya dan situasi tertentu yang tak boleh dilihat sebarang orang. Usia 5-6 tahun, anak mulai diberi tahu seputar sesama jenis atau lawan jenis,” Analisa memberi contoh.

Kemudian di tahap perkembangan selanjutnya yakni di usia 7-11 tahun, para orang tua sudah bisa memberi tahu seputar pendidikan seksual yang lebih dalam seperti mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan lawan jenis terhadap si anak, misalnya bagian tubuh sensitif tidak boleh disentuh orang lain.

“Selanjutnya memasuki usia remaja yakni di usia 12 tahun, para orang tua bisa memberi pemahaman apa bahayanya pacaran karena di usia itu, terkadang ada anak yang sudah pacaran di usia segitu kan? Makanya kita boleh untuk memberi pemahaman soal dampak pacaran,” terangnya saat ditemui Bintang di Jakarta beberapa waktu lalu.

Jangan Langsung Menuduh

Selain memberi pembelajaran, para orang tua juga harus siap menjadi pendengar yang baik bagi anak. “Terkadang anak suka bercerita tentang teman lawan jenisnya yang menarik perhatiannya. Terkadang anak-anak suka secara tidak sengaja menyentuh tubuh teman lawan jenisnya. Namun kita sebagai orang tua jangan bereaksi spontan dengan menghakimi anak dan bilang bahwa itu enggak boleh karena anak justru akan semakin penasaran dan melakukannya lagi,” ujar Analisa.

(Depositphotos)
(Depositphotos)

Sebaliknya, Analisa menyarankan para orang tua untuk mencari tahu seperti apa konsep ‘suka’ atau ‘naksir’ dan sebagainya menurut si anak. “Orang tua seharusnya bertanya, ‘memang naksir/suka itu apa sih?’atau ‘memang kakak suka si A karena apa?’ Dengan bertanya kita akan tahu seperti apa pemahaman anak terkait kata suka, naksir, cinta dan sebagainya sejauh mana sih? Jangan-jangan kita (orang tua) yang punya interpretasi sendiri yang terlalu jauh,” Analisa mengingatkan.

Lebih lanjut, sebagai orang tua yang memiliki anak yang tumbuh di era kecanggihan teknologi, maka penting untuk mengajarkan anak soal ‘memanfaatkan teknologi’ bukan sebaliknya ‘dimanfaatkan teknologi’. “Bukan hanya anak, orang tua sekarang harus melek teknologi juga. Orang tua harus memastikan bahwa konten yang dilihat, didengar atau diunduh anak kita memang sesuai dengan kebutuhan di usianya. Orang tua berhak memeriksa apa saja yang anak browsing setiap harinya. Dengan begitu orang tahu seperti apa dunia anak di dalam gadget-nya,” pungkasnya.

(agest)

Komentar