aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Mengenal Tipe Orang Tua Tukang Kayu dan Orang Tua Tukang Kebun

Sunday, 21 July 2019 09:00:00 WIB | Rizki Adis Abeba
Mengenal Tipe Orang Tua Tukang Kayu dan Orang Tua Tukang Kebun
Tidak ada habisnya membahas tentang orang tua dan pola asuh anak. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Tidak ada habisnya membahas tentang orang tua dan pola asuh anak. Setelah tipe orang tua macan vs orang tua lumba-lumba, orang tua helikopter vs orang tua pesawat nirawak, muncul lagi istilah lain untuk mengelompokkan orang tua berdasarkan pola asuh yang diterapkan pada anak: orang tua tukang kayu dan orang tua tukang kebun. Istilah ini dicetuskan Alison Gopnik, psikolog dan profesor psikologi di Universitas California, Berkeley, AS. Apa maksud dan apa perbedaan di antara mereka?

Tukang Kayu: Membentuk Masa Depan Anak

Dalam buku berjudul The Gardener and The Carpenter yang dirilis pada Agustus 2017, Gopnik mengutarakan bahwa kebanyakan orang tua saat ini mengalami tekanan yang besar, begitu pula anak-anak. Lewat penelitian yang dilakukan selama satu dekade Gopnik menyimpulkan, orang tua generasi milenial memandang anak sebagai entitas yang dapat mereka bentuk sesuai yang mereka inginkan.

Penyebabnya, kebanyakan dari mereka kewalahan menyerap dan menyaring berbagai teori membesarkan anak. Sehingga, mereka memaksakan teori-teori itu pada anak. Tipe orang tua seperti ini yang ia sebut sebagai orang tua tukang kayu.

Orang tua tipe tukang kayu berpikir, anak bisa dipahat dan dibentuk sesuai keinginan. “Idenya, jika Anda melakukan hal yang benar, punya kemampuan yang tepat (dalam mengasuh), membaca buku yang benar, Anda akan mampu membentuk anak menjadi orang tertentu ketika mereka dewasa kelak,” urai Gopnik.

(Depositphotos)
(Depositphotos)

Orang tua tipe tukang kayu gemar memperkaya pengetahuan soal mengasuh anak, membaca buku terbaik, mengikuti komunitas pengasuhan anak sampai berbagai pelatihan demi mendapatkan kemampuan terbaik dalam mengasuh anak. Mereka sudah tahu ke mana akan mengarahkan anak-anak, mempersiapkan rencana pendidikan sejak dini, bahkan memprediksi karier anak kelak.

Masalahnya, orang tua tipe ini terlalu fokus memikirkan akan jadi apa anak-anak mereka ketika dewasa, sehingga mengabaikan keinginan anak. Mereka berpikir rencana yang sudah dipersiapkan adalah yang terbaik untuk anak, sehingga ketika dalam perjalanannya anak punya rencana sendiri, mereka akan kecewa dan mengganggap diri gagal dalam membesarkan anak. “Kita terlalu berkonsentrasi tentang akan menjadi apa anak-anak ini kelak, tetapi tidak ada keinginan memberikan apa yang dibutuhkan anak—untuk mengambil risiko dan membiarkan mereka mengeksplorasi dunia,” kata Gopnik.

Tukang Kebun: Menciptakan Ekosistem untuk Tumbuh

Di sisi lain, Gopnik menjabarkan tipe orang tua tukang kebun sebagai orang tua yang membiarkan anak-anak tumbuh sesuai intuisi dan minat masing-masing. Peran orang tua, menciptakan ekosistem yang terbaik untuk anak tumbuh. “Mereka menciptakan ekosistem yang kaya, subur, serta beragam dan dinamis sebagai tempat anak-anak bertumbuh,” jelas Gopnik.

(Depositphotos)
(Depositphotos)

Anak-anak juga manusia, yang hidup dengan mengikuti naluri alami. “Atas semua perbedaan kecil yang sering diperdebatkan dalam teori pengasuhan anak—seperti tidur bersama atau tidur terpisah hingga seberapa banyak tugas sekolah yang pantas diberikan untuk anak—ternyata data menunjukkan, tidak ada satu pun dari teori itu yang membuat perbedaan besar dalam bagaimana anak akan tumbuh dalam jangka waktu panjang,” beber Gopnik.

Orang tua tukang kebun menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis sebagai tempat anak tumbuh, menyekolahkan anak di sekolah terbaik, memantau lingkungan pergaulan anak tetapi tidak mencampuri. “Membiarkan mereka tumbuh sendiri (sesuai intuisi) bukanlah ide buruk. Kita tahu anak-anak akan menemukan cara mereka sendiri. Ketika mereka bermain sesuatu, sepak bola misalnya, mereka tidak hanya belajar cara menendang bola, tetapi secara alami mereka mempelajari cara memimpin tim, cara membagi kelompok,” Gopnik memberi contoh.

Membekali diri dengan ilmu demi menjadi orang tua yang baik, perlu. Namun jangan jadikan semua ilmu dan teori yang Anda telan sebagai pembatas kebebasan anak. Sebaliknya, manfaatkan untuk menciptakan ekosistem terbaik bagi anak agar mereka bisa tumbuh sesuai naluri. “Tugas kita bukan membentuk pikiran anak-anak. Melainkan membiarkan pikiran mereka mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan di dunia ini,” pungkasnya.

(riz/bin)

Komentar