aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Orang Tua Kecanduan Gawai, Perilaku Anak Bisa Terganggu

Thursday, 11 July 2019 14:00:23 WIB | Rizki Adis Abeba
Orang Tua Kecanduan Gawai, Perilaku Anak Bisa Terganggu
Lima puluh empat persen anak berpikir orang tua mereka menghabiskan terlalu banyak waktu dengan ponsel. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Anda pasti pernah kesal karena omongan Anda tidak didengarkan atau diabaikan oleh lawan bicara, karena mereka sibuk mengecek ponsel. Sadarkah Anda, anak pun merasa demikian ketika Anda tidak mengacuhkan mereka karena gawai. Ini tidak hanya menimbulkan kekecewaan dalam diri anak, namun bisa berimbas lebih jauh yakni menimbulkan gangguan perilaku anak.

Kebanyakan orang tua berusaha menjauhkan anak dari gawai, mencegah agar mereka tidak kecanduan gawai. Namun mereka sering lupa, mereka sendiri pengguna gawai yang sangat aktif, bahkan sampai di tahap mencandu. Hal ini terungkap dalam penelitian Universitas Negeri Pennsylvania terhadap 168 ibu dan 165 ayah dengan anak berusia di bawah 5 tahun, pada kurun 2014-2016. Untuk mengetahui seberapa jauh penggunaan gawai dalam keseharian mereka, orang tua diminta memberi jawaban iya atau tidak pada pernyataan sebagai berikut:

“Ketika ponsel saya berbunyi karena ada pesan baru masuk, saya tidak tahan untuk langsung mengeceknya.”

“Saya sering memikirkan tentang panggilan telepon atau pesan yang mungkin saya terima di ponsel saat tidak memegang ponsel.”

“Saya merasa terlalu sering menggunakan ponsel.”

(Depositphotos)
(Depositphotos)

Hasilnya, lebih dari separuh responden mengiakan ketiga pertanyaan di atas. Rata-rata ayah dan ibu mempunyai dua jenis gawai, yang mengganggu interaksi dengan anak setidaknya tiga kali sehari. Entah karena sibuk membalas pesan atau membuka media sosial di ponsel, menonton televisi, atau sibuk dengan laptop, orang tua pernah mengabaikan perkataan atau keinginan anak.

Di sisi lain, mari kita tengok hasil penelitian tentang dampak penggunaan gawai oleh orang tua terhadap anak yang digagas perusahaan peranti lunak AVG Technologies yang berkantor di Eropa, Israel, Amerika Utara, dan Brasil. Dalam studi terhadap 6 ribu anak berusia 8-13 tahun dari Brasil, Australia, Kanada, Prancis, Inggris, Jerman, Republik Ceko hingga AS pada 2015 lalu, 32 persen anak merasa diri mereka tidak penting, ketika ayah dan ibu terlalu fokus ke ponsel. Anak-anak mengeluhkan harus bersaing dengan teknologi demi menarik perhatian orang tua. Lebih lanjut lagi, 54 persen anak berpikir orang tua mereka menghabiskan terlalu banyak waktu dengan ponsel.

Technoference

Kondisi ketika gawai menjauhkan jarak dua orang yang dekat disebut technoference. Masih dalam studi Universitas Pennsylvania, 40 persen ibu dan 32 persen ayah mengakui penggunaan teknologi digital berkaitan dengan munculnya technoference dengan anak mereka. Hanya 11 persen orang tua yang menyatakan bahwa technoference tidak terjadi.

(Depositphotos)
(Depositphotos)

Technoference merupakan cikal bakal munculnya masalah perilaku pada anak. Ada dua jenis gangguan perilaku yang kemungkinan dialami anak yang menjadi korban technoference. Pertama, gangguan eksternal atau penyimpangan perilaku yang diekspresikan dengan perilaku agresif seperti hiperaktif, tidak bisa duduk diam dalam waktu lama, mudah frustrasi, mudah mengalami tantrum atau berperangai pemarah, dan suka mencari perhatian orang lain. Kedua, gangguan perilaku anak internal yang menyerang sifat atau pembawaan anak. Biasanya gangguan ini berupa sifat anak yang mudah merajuk, merengek, dan gampang bersedih.

Ini sebabnya, Tony Anscombe, salah satu perwakilan AVG Technologies, mengajak orang tua agar lebih bijak dalam menggunakan gawai terutama di rumah. “Dengan kondisi anak-anak mulai menggunakan ponsel di usia yang semakin muda, penting bagi kami (orang tua) untuk mencontohkan kebiasaan baik di rumah,” kata Anscombe. “Memang sulit menjauh dari gawai di rumah, tapi karena banyak orang tua mengatakan kepada kami bahwa mereka berharap anak-anak lebih sedikit menggunakan gawai, mereka harus memberi contoh dan menyadari bagaimana perilaku mereka mungkin memengaruhi perasaan anak.” Jadi, sebelum mencegah anak kecanduan gawai, sebaiknya orang tua instrospeksi, apakah penggunaan gawai mereka sudah dalam porsi pas?

(riz)

Komentar