aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Snowplow Parenting Tidak Kenal Batasan Usia, Ini Efeknya Pada Anak

Saturday, 6 July 2019 08:00:29 WIB | Rizki Adis Abeba
Snowplow Parenting Tidak Kenal Batasan Usia, Ini Efeknya Pada Anak
Ilustrasi keluarga (Deposit Photos)

TABLOIDBINTANG.COM - Banyak orang tua yang rela menempuh cara apapun dan mengintervensi lingkungan sosial anak demi membantu anak memecahkan masalah dan meraih kesuksesan dengan mudah. Model pengasuhan orang tua seperti ini kini ramai dibicarakan dengan istilah snowplow parenting atau bulldozer parenting. Apa dan bagaimana efek snowplow parenting bagi anak?

Yang menjadi konsen para pakar pengasuhan anak, snowplowing parenting tidak punya batasan waktu. Baru-baru ini USA Today mengadakan polling terhadap orang tua yang memiliki anak berusia 18 hingga 28 tahun dan menanyakan bantuan apa yang mereka berikan pada anak di usia yang sudah memasuki usia dewasa tersebut.

Hasilnya, lebih dari tiga perempat responden mengaku tetap mengingatkan anak mereka yang sudah besar tentang pekerjaan rumah atau tanggung jawab pekerjaan. Bahkan hampir sebagian besar orangtua mengaku masih tetap membuatkan jadwal pertemuan dengan dokter untuk anak mereka yang sudah dewasa.

Ilustrasi keluarga (Deposit Photos)
Ilustrasi keluarga (Deposit Photos)

22 persen orang tua yang anaknya masih kuliah mengaku masih membantu anak mereka dalam belajar, 11 persen menuliskan tugas, 4 persen mengatakan masih menulsikan essay atau tugas kuliah anaknya, dan 8 persen orang tua menemui profesor atau pihak kampus ketika anaknya menghadapi masalah di kampus.

Tidak hanya sampai di situ, 10 persen orang tua dari anak yang sudah bekerja mengatakan jika anak mereka menghadapi masalah di kantor, mereka tidak segan-segan menghubungi sang atasan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Melihat fenomena ini, para pakar psikologi yang dikutip oleh Atlanta Journal-Constitution, mengkhawatirkan anak-anak dari orang tua snowplowing akan tumbuh menjadi generasi yang malas berusaha, tidak mampu belajar dari kesalahan, atau bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

“Jika Anda selalu ditolong atau dikelola secara mikro oleh orang tua, Anda akan mempunyai sangat sedikit pengalaman dalam mengembangkan kemampuan hidup yang penting seperti membangun kepercayaan diri, mengambil keputusan, dan memecahkan masalah,” ungkap pakar parenting Michele Borba, Ed.D, yang juga penulis buku The Big Book of Parenting Solutions.

Ingatlah pepatah lama yang mengatakan, “Ada dua hal yang bisa kita berikan kepada anak-anak kita: akar dan sayap.” Orang tua snowplow mungkin bermaksud baik yakni memberikan apa yang diinginkan anak, namun mereka lupa bahwa dengan kemudahan yang diberikan anak tidak akan belajar terbang dengan sayapnya sendiri.

(riz / ray)

Komentar