aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Kerusuhan 22 Mei, Bagaimana Menjelaskan Situasinya kepada Anak?

Thursday, 23 May 2019 20:30:02 WIB | TEMPO
Kerusuhan 22 Mei, Bagaimana Menjelaskan Situasinya kepada Anak?
Jelaskan pada anak soal 22 Mei 2019 (ilustrasi Deposit Photos)

TABLOIDBINTANG.COM - Aksi demonstrasi terkait hasil pemungutan suara pemilihan presiden atau pilpres 2019 diwarnai kericuhan sejak Rabu, 22 Mei dini hari. Kabar kerusuhan 22 Mei ini menimbulkan keresahan, juga memicu emosi publik. Tidak hanya orang tua, kabar mengenai aksi ini ikut pula menjadi perhatian anak-anak. Bagaimana menjelaskan situasi ini kepada anak?

Psikolog Sani Budiantini Hermawan mengatakan, sebelum menjelaskan tentang kerusuhan 22 Mei, orang tua harus dalam kondisi kepala dan hati yang tenang. “Yang penting cooling down diri kita sendiri dulu, baru bisa memberi penjelasan ke anak. Kalau belum, sebaiknya jangan (beri penjelasan) dulu,” kata dia saat dihubungi Tempo.co, Rabu, 22 Mei 2019.

Penjelasan tentang kerusuhan tersebut perlu mengingat anak mudah mengakses beritanya melalui media sosial maupun televisi. Sebagian pemberitaan yang menggunakan foto atau video kadang-kadang disertai aksi kekerasan.

Idealnya, anak harus dijauhkan dari berita-berita tersebut. Namun bagaimana jika anak sudah terlanjur mengaksesnya? Ini bukan hanya berpotensi menimbulkan keresahan dan emosi, tapi juga aksi tersebut akan terekam dalam memori anak.

Menurut Sani, orang tua juga harus menjelaskan bahwa lokasi kerusuhan jauh dari rumah jadi akan lebih aman. Juga, perlu diterangkan bahwa situasi ini akan ditangani oleh pemerintah sehingga tak perlu resah atau ikut emosi.

“Yakinkan anak bahwa pemerintah bisa mengatasi situasi ini. Masalahnya adalah kalau orang tua sendiri tidak yakin pada pemerintah dan masih mengusung nomor-nomor (calon presiden) tertentu. Tanpa sadar itu malah bisa bikin anak resah,” kata Sani.


Dalam situasi seperti itu, Sani mengatakan orang tua tetap harus berpikir jernih, bijak, dan ingat bahwa negara ini adalah negara hukum yang tidak mungkin brutal. Sikap ini juga akan ikut mempengaruhi anak. 

TEMPO.CO

Komentar