aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Cara Membangun Ikatan Batin dengan Anak Sesuai Tahapan Usia (Bagian 3-habis)

Thursday, 16 May 2019 11:45:23 WIB | Rizki Adis Abeba
Cara Membangun Ikatan Batin dengan Anak Sesuai Tahapan Usia (Bagian 3-habis)
Membangun ikatan batin dengan anak pun harus disesuaikan dengan usia anak. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Membangun ikatan batin dengan anak bukanlah hal yang bisa dilakukan dalam waktu semalaman. Butuh konsistensi yang harus dilakukan bertahun-tahun untuk membuat ikatan batin yang positif dengan anak.

Memahami masalah dari sudut pandang anak dan membuka jalur komunikasi dua arah menjadi hal yang penting untuk dilakukan dalam membangun ikatan batin orang tua dan anak. Namun seiring perkembangan anak terkadang anak mengalami perubahan sikap yang dipengaruhi oleh kematangan usia dan pengaruh lingkungan mereka. Untuk itu, orang tua perlu menyesuaikan diri.

Membangun ikatan batin dengan anak pun harus disesuaikan dengan usia anak. Bagaimana saja tahapannya dan apa yang harus dilakukan?

SMP: Luangkanlah Waktu Khusus Untuk Dihabiskan Bersama

Anak usia SMP — dengan emosi dan perubahan hormon yang besar — akan terasa lebih sulit dalam ikatan orangtua-anak. Pada fase ini, cara yang terbaik adalah membiarkan anak Anda memilih pengaturan dan aktivitas yang disukai, sambil tetap mengusahakan agar Anda bisa meluangkan waktu berkualitas bersama anak.

“Saya mendorong orang tua untuk meluangkan setidaknya 2 atau 3 jam waktu 'khusus' dengan anak mereka setiap akhir pekan. Mintalah anak untuk memilih dan memutuskan (dengan alasan yang bisa diterima) bagaimana kalian akan menghabiskan waktu bersama,” saran Forrest Talley.

(Depositphotos)
(Depositphotos)

“Meluangkan waktu untuk dihabiskan bersama tidak bisa ditawar, namun anak boleh menentukan bagaimana atau kegiatan apa yang dilakukan untuk menghabiskan waktu berkualitas itu,” lanjut Forrest Talley.

Perlu diingat pula, anak usia SMP sering melakukan hal atau mengucapkan sesuatu yang tidak terduga. Jangan terpancing atau menganggap serius hal-hal absurd yang dikatakan anak.

“Anak-anak sering mengeluarkan emosi mereka pada orang-orang yang mereka rasa paling dekat dengannya. Orang tua dapat membantu anak melalui tahap ini dengan tetap tenang dan memberikan saran secara rasional, dan tetaplah ingat bahwa fase ini juga merupakan tahap yang sulit bagi anak," kata Mosback.

SMA: Maksimalkan Waktu Bersama Yang Semakin Minim

Di SMA, anak mulai berlatih menjadi orang dewasa dan kemungkinan lebih tertarik untuk menjalin ikatan dengan teman daripada dengan ibu dan ayah. Pada fase ini biasanya orang tua akan merasa waktu bersama dengan anak semakin jauh berkurang.

Itulah mengapa penting untuk memanfaatkan waktu bersama yang singkat, seperti saat berada di mobil bersama. Forrest Talley juga merekomendasikan Anda untuk melakukan ritual menyenangkan misalnya membuat sarapan di akhir pekan.

Upayakan agar sedikit waktu yang bisa Anda habiskan bersama anak menjadi momen menyenangkan bukannya dengan menasihati atau menceramahi mereka ketika tidak ada masalah serius yang muncul.

Seringnya, orang tua menuduh dan menceramahi anak untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu membuat anak kehilangan rasa nyaman dan enggan bercerita lagi tentang masalahnya kepada Anda. “Jika ada tekanan atau hukuman ketika anak berbicara jujur saat berkomunikasi dengan kita, maka anak akan beralih (berbicara) ke orang lain,” Lauren Mosback mengingatkan.

(riz/bin)

Komentar