aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Anak Bertanya Soal Terorisme, Cara Menjelaskan Tanpa Menakut-Nakuti (1)

Saturday, 16 March 2019 13:30:15 WIB | Rizki Adis Abeba
Anak Bertanya Soal Terorisme, Cara Menjelaskan Tanpa Menakut-Nakuti (1)
Ilustrasi (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Aksi terorisme di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, yang menewaskan sedikitnya 49 orang pada Jumat (15/03) muncul di hampir semua pemberitaan. Ketika kabar soal teror seperti ini menjadi berita utama di hampir semua media dan menjadi pembicaraan banyak orang, besar kemungkinan anak-anak Anda juga akan mendengar. Anak-anak, dengan naluri keingintahuannya yang besar, kemungkinan besar akan bertanya pada Anda, “Terorisme itu apa?” Bagaimana cara menjawab dan menjelaskan soal terorisme pada anak-anak?

“Kita semua mencari cara untuk menjelaskan sesuatu yang terasa tidak mungkin dijelaskan –karena kita tidak begitu memahaminya,” kata Susan Stiffelman, terapis perkawinan dan keluarga, psikoterapis berlisensi, sekaligus penulis buku-buku parenting asal California, AS. Orang tua umumnya tidak mengharapkan obrolan tentang aksi terorisme dengan anak-anak yang masih polos. Namun jika anak bertanya, maka orang tua tidak boleh mengabaikan agar anak mendapatkan informasi yang benar dan tidak menyimpang. Bagaimana caranya?

1. Cari Tahu Dahulu Apa yang Sudah Anak Ketahui

Anda mungkin terkejut dan heran dari mana anak bisa mendengar soal terorisme. “Anak-anak sangat intuitif dan tanggap,” kata pakar parenting dan pertumbuhan anak, Denise Daniels, yang pernah membantu anak-anak yang mengalami tragedi 9/11, Badai Katrina, dan Tsunami 2004 di Aceh. “Jika tidak mendengarnya dari televisi, bisa jadi mereka mendengar dari temannya. Mereka juga bisa melihat jika orang tuanya mungkin lebih serius menyimak berita televisi dari biasanya. Meski mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mereka tetap merasakan ada sesuatu yang penting sedang terjadi. Mendapatkan informasi (soal apa yang sedang terjadi, misalnya terorisme) akan membantu mereka keluar dari kebingungan,” urai Denise Daniels.

Jangan defensif ketika anak bertanya tentang sesuatu yang menurut Anda masih di luar jangkauan mereka, misalnya soal terorisme. Justru sebaiknya Anda mencari tahu lebih dahulu, apa yang mereka ketahui soal terorisme. “Katakan, ‘Kamu mungkin sudah mendengar sesuatu yang sangat menyedihkan terjadi dan ibu ingin tahu apa saja yang sudah kamu dengar’,” Susan Stiffelman menyontohkan. Dengan bertanya seperti ini, Anda bisa menakar sejauh apa informasi yang bisa Anda berikan kepada anak. 

2. Jelaskan dengan Sederhana

Usahakan agar Anda menjelaskan dengan bahasa dan kata-kata yang sederhana dan mudah dicerna anak. “Untuk anak usia 4 tahun Anda mungkin bisa menjelaskan dengan menyederhanakan situasi menjadi hitam-putih. “Karena secara perkembangan, anak di usia itu baru bisa mencerna soal orang baik dan orang jahat, dan tidak ada yang terletak di antaranya,” kata Denise Daniels. “Anda bisa mengatakan, ‘Ya, ada orang-orang jahat dan mereka melukai orang baik karena mereka sangat marah, dan kita tahu kan kita tidak boleh menyakiti diri sendiri ataupun orang lain hanya karena kita merasa marah.’ Biarkan penjelasannya sesederhana mungkin,” Denise Daniels memberikan contoh.

3. Masukkan dengan Logika Anak Lewat Pengalaman Pribadi

Agar lebih mudah dipahami anak, relasikan kejadian terorisme itu dengan pengalaman yang pernah dirasakan dan bisa dimengerti anak. “Kamu tahu kan ketika kamu berkelahi dengan temanmu karena menginginkan mainan sama dan hanya satu orang yang bisa mendapatkannya? Orang-orang biasanya bisa menjadi marah ketika tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan atau ketika sesuatu yang amat dicintainya terluka, dan ini adalah beberapa alasan mengapa orang terlibat dalam perkelahian besar,” contoh Denise Daniels. 

(riz)

Komentar