aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Ini Penyebab Anak Obesitas Cenderung Tidak Bahagia di Sekolah

Wednesday, 27 February 2019 22:30:23 WIB | Rizki Adis Abeba
Ini Penyebab Anak Obesitas Cenderung Tidak Bahagia di Sekolah
Anak-anak yang mengalami obesitas cenderung mempunyai beban dan masalah psikis yang lebih berat ketimbang teman-teman sebayanya dengan ukuran tubuh normal. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Dr. Christoper Bolling, Kepala Seksi Obesitas di Akademi Pediatrik Amerika menyebutkan ada kemungkinan efek psikososial pada anak-anak obesitas yang mempengaruhi kehidupan mereka termasuk di sekolah.

“Penelitian menunjukkan orang dengan obesitas cenderung memiliki kualitas hidup yang rendah, menghadapi lebih banyak stigma sosial, dan tingkat mengalami depresi yang tinggi,” ungkap Christoper Boilling.

Anak-anak yang berbadan lebih besar daripada teman sebayanya rentan mengalami perundungan, sebab sosok mereka menonjol dan berbeda dari yang lain. Minimal ada seseorang yang memanggil mereka dengan sebutan “si Gendut” yang tanpa disadari mempengaruhi kepercayaan diri mereka.

Anak dengan obesitas. (Depositphotos)
Anak dengan obesitas. (Depositphotos)

Hal ini membuat anak-anak yang mengalami obesitas cenderung mempunyai beban dan masalah psikis yang lebih berat ketimbang teman-teman sebayanya dengan ukuran tubuh normal.

Sehingga tidak mengejutkan jika anak-anak dengan obesitas tidak berkembang seperti teman-teman sebayanya dalam proses belajar di sekolah, kata Christoper Boilling. “Tapi bukan berarti seseorang harus kehilangan banyak berat badan demi merasa bahagia,” lanjut Christoper Boilling.

Christoper Boilling merekomendasikan orang dewasa untuk lebih memperhatikan anak-anak yang mengalami obesitas dan peduli pada tantangan yang mereka hadapi di sekolah serta membekali mereka dengan kemampuan menghadapi masalah.

“Sebab anak-anak memanifestasikan stres dengan cara berbeda. Bisa dalam bentuk gejala fisik, kesulitan dalam menjalin hubungan dan bersosialisasi, atau performa sekolah yang buruk,” tandas Christoper Boilling. 

(riz/bin)

Komentar