aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Kasus Kecelakaan Meningkat, Hati-Hati Ajak Anak Bermain di Arena Trampolin

Tuesday, 26 February 2019 18:30:03 WIB | Rizki Adis Abeba
Kasus Kecelakaan Meningkat, Hati-Hati Ajak Anak Bermain di Arena Trampolin
Taman bermain trampolin kini menjadi tempat bermain populer untuk anak-anak (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Taman bermain trampolin kini menjadi tempat bermain populer untuk anak-anak. Meski terlihat aman, berhati-hatilah karena permainan trampolin bisa menyebabkan cedera serius pada anak. 

Menurut data dari tim tanggap darurat 911, I-Team, di Chicago, AS, ada sekitar 315 panggilan telepon ke 911 dengan kondisi darurat akibat kecelakaan di arena bermain trampolin setiap tahun. Jumlah ini tidak termasuk orang tua yang segera melarikan anaknya ke rumah sakit tanpa memanggil bantuan 911 ketika terjadi kecelakaan di arena trampolin.

Don McPherson, pakar keamanan sekaligus instruktur gimnastik veteran asal Naperville, Chicago, AS, menyebutkan, cedera yang diakibatkan permainan trampolin rata-rata menyebabkan gangguan serius dan mengubah total hidup seseorang. Ia telah menyaksikan cedera mulai dari tulang retak, cedera trauma otak yang diikuti dengan pendarahan otak, patah tukang hidung, tulang pipi, rahang, leher patah, hingga kematian yang disebabkan kecelakaan di arena bermain trampolin.

Begitu pula praktisi kesehatan yang sering menangani kasus darurat akibat kecelakaan di arena bermain trampolin. Dr. Charles Nozicka, dokter spesialis anak di Rumah Sakit Anak Advocate, menyebutkan terjadi peningkatan jumlah pasien di Unit Gawat Darurat yang berkaitan dengan kecelakaan di arena bermain trampolin. "Mereka menyebutnya patah trampolin," kata Charles Nozicka. 

Charles Nozicka juga menyebutkan anak-anak lebih rawan mengalami cedera akibat bermain trampolin karena struktur tulang mereka yang belum sempurna. "Anak-anak memiliki lempeng pertumbuhan terbuka di tulang kaki dan tangan mereka sehingga bisa bertumbuh lebih besar. Ini adalah area yang lebih lunak dan lebih mudah patah dan itu bisa berakibat pada pertumbuhan mereka di kemudian hari," urai Charles Nozicka.

"Enam puluh hingga tujuh puluh persen dari mereka mengalami cedera ortopedi paling banyak di bagian bawah. Semakin tua usia anak maka mereka cenderung memiliki lebih banyak cedera di tubuh bagian atas, seperti cedera kepala dan leher, karena mereka mulai mencoba trik melompat terbalik," beber Charles Nozicka. 

(riz)

Komentar