aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Ketika Anak Jadi Korban Body-Shaming

Tuesday, 18 December 2018 17:15:28 WIB | Yuriantin
Ketika Anak Jadi Korban Body-Shaming
Body Shaming

TABLOIDBINTANG.COM - Komentar negatif tentang fisik seseorang atau body-shaming bisa terjadi di mana saja, termasuk lewat media sosial. Korbannya pun dari berbagai jenjang usia, tak terkecuali para remaja yang terpapar media sosial setiap hari. Dampaknya tak main-main. Remaja korban body-shaming rentan tumbuh dengan rasa percaya diri yang rendah.

Memasuki fase pra-remaja (11-13 tahun) dan remaja (13-17 tahun), anak kerap mengalami konsep imaginary audience yaitu perasaan seperti selalu diperhatikan orang lain. Kondisi ini memengaruhi rasa percaya diri remaja.

"Ketika anak mengalami body-shaming di masa ini (pra-remaja hingga remaja), maka rasa percaya diri anak akan menurun. Anak bisa jadi malas sekolah, terhambat pergaulannya atau timbul stres. Akibatnya, eksplorasi anak berkurang dan menghambat kemajuan mereka," beri tahu psikolog anak dan remaja, Saskhya Aulia Prima kepada Bintang. 

Terdengar sepele, psikolog dari Tiga Generasi ini mengingatkan betapa dampak body-shaming itu bisa sangat vital. Karena body-shaming akan memengaruhi bagaimana anak melihat dan berperilaku dalam lingkungan sosialnya di masa mendatang. 

Lantas, apa yang bisa dilakukan orang tua ketika anak menjadi korban body-shaming? Yang pertama, orang tua perlu memahami terlebih dahulu, apa itu body-shaming? Saskhya mengungkapkan terkadang orang tua menganggap komentar seputar fisik adalah hal yang biasa. Selanjutnya, usahakan memberi tahu dengan cara yang tidak menyinggung anak jika orang tua merasa memang ada yang perlu diperbaiki dari fisik anak.

"Misalnya, bobot tubuh anak bertambah. Orang tua bisa memberi pengertian kepada anak dari sisi kesehatan. Setelahnya, orang tua bisa mengajak anak berolahraga bersama supaya lebih sehat," Saskhya mencontohkan. 

Ketika anak merasa diserang karena kondisi fisiknya, ajak anak berdiskusi secara logis. Saskhya mengambil contoh kasus anak yang merasa tidak cantik karena kulitnya gelap.

"Orang tua bisa mengajak anak melihat berapa banyak seleb cantik yang kulitnya gelap. Tanyakan juga pada anak berapa banyak orang yang mengkritik kulit gelapnya. Kemudian bandingkan dengan jumlah teman yang ia miliki. Dorong anak memahami bahwa cantik itu relatif, bukan sesuatu yang mutlak. Tujuannya adalah untuk menanamkan pola pikir yang positif kepada anak," papar dia.

Membentuk pola pikir positif pada anak bukan perkara mudah. "Ini bukan usaha semalam. Pola pikir positif seperti otot, kalau tidak terus dilatih akan lembek," imbuh Saskhya.

Oleh sebab itu, ia berharap orang tua rutin berkomunikasi secara intim dengan anak setiap hari. Tidak hanya ketika anak mengalami masalah.

"Jadi kala muncul kecemasan pada anak, mereka akan segera kembali pada pola pikir yang positif," sambung dia.

(yuri / gur)

Komentar