aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Anak Mengeluh Saat Puasa, Lapar atau Bosan?

Saturday, 26 May 2018 19:00:09 WIB | Rizki Adis Abeba
Anak Mengeluh Saat Puasa, Lapar atau Bosan?
Anak Mengeluh Saat Puasa, Lapar atau Bosan? (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Dalam proses belajar berpuasa, sebagian besar anak tidak langsung sanggup berpuasa seharian penuh. Orang tua harus mengukur kekuatan dan ketahanan anak, sehingga latihan berpuasa sebaiknya dilakukan secara bertahap.

Penting untuk orang tua mengasah sensitivitas terhadap emosi anak selama puasa. Bedakan kapan saatnya anak benar-benar lapar atau hanya bosan dan butuh pengalihan perhatian. 

Mary Lou Gavin, MD, dokter spesialis anak yang juga editor situs web kesehatan anak KidsHealth, menjelaskan anak-anak usia 3-5 tahun kerap menggunakan kata “lapar” untuk mengekspresikan perasaan seperti bosan, kesepian, sedih, atau emosi lain yang mereka tidak bisa jabarkan.

Di sisi lain, jika dibiasakan menggunakan makanan untuk mengatasi rasa sedih, jenuh, atau emosi lain, anak akan membangun hubungan antara makanan dan banyak perasaan lain selain lapar. “Dan jika dibiarkan dalam waktu lama, hal itu akan sangat sulit diubah,” ungkap Gavin.

Ketika anak merengek lapar, Anda perlu mencurigai adanya kemungkinan anak tidak benar-benar lapar, tetapi hanya sedang mencari perhatian. Cobalah bertanya, “Apa kamu mau bermain bersama ibu?” Jika ia dengan cepat melupakan keinginannya menyantap camilan karena bersemangat bermain dengan Anda, bisa dipastikan anak tidak benar-benar lapar. Anak yang kelaparan tidak akan fokus atau punya cukup energi untuk bermain.

Anak Mengeluh Saat Puasa, Lapar atau Bosan? (Depositphotos)
Anak Mengeluh Saat Puasa, Lapar atau Bosan? (Depositphotos)

Persoalan lain ketika anak tidak mampu membedakan rasa lapar dan kenyang adalah pertumbuhan berat badan yang tidak terkendali. Anak rentan terkena obesitas.

“Kebanyakan dari kita terlahir dengan kemampuan untuk mengukur kebutuhan tubuh terhadap makanan. Namun seiring berjalannya waktu kita juga bisa belajar untuk mengabaikan sinyal-sinyal rasa lapar dan kenyang sehingga berakibat pada kenaikan berat badan yang tidak terkendali,” urai Gavin.

(riz / gur)

Komentar