aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Boleh Tidak Sih Bantu Anak Mengerjakan PR? Ini Kata Psikolog Ajeng Raviando

Monday, 14 May 2018 20:30:00 WIB | Wida Kriswanti
Boleh Tidak Sih Bantu Anak Mengerjakan PR? Ini Kata Psikolog Ajeng Raviando
Boleh Tidak Sih Bantu Anak Mengerjakan PR? Ini Kata Psikolog Ajeng Raviando (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Pekerjaan rumah atau PR menjadi tantangan tersendiri bagi sang buah hati yang sudah bersekolah. Karena dianggap tantangan, tidak jarang orang tua turun tangan membantu anaknya mengerjakan PR. Membantu dalam artian tidak sekadar mendampingi dan memberikan arahan, namun benar - benar mengerjakan PR anak.

Tentu hal ini kurang tepat. Seperti dijelaskan psikolog Ajeng Raviando, bahwa tujuan pemberian PR oleh guru karena guru ingin mendapatkan penilaian yang tepat tentang kemampuan anak, bukan kemampuan orang tua.

(Depositphotos)
(Depositphotos)

"Jadi orang tua perlu memahami tujuan ini dulu, dengan demikian akan membiarkan anak mengerjakan PR-nya sendiri," kata Ajeng Raviando, dalam acara HP HOMEWORK RESCUE, kampanye yang mendorong anak - anak untuk menghadapi pekerjaan rumah menggunakan printer HP DeskJet Ink Advantage, di Jakarta, Jumat (11/5). "Jika kemudian anak melakukan kesalahan, justru bagus. Jadi guru tahu kekurangan tiap anak di mana. Kalau semuanya benar dan ternyata yang mengerjakannya orang tua, maka kemampuan orang tua yang diukur guru," lanjutnya.

Jika anak bertanya tentang PR-nya, Ajeng Raviando juga mengingatkan agar orang tua tidak langsung segera memberikan jawabannya. Berikan sedikit jeda agar anak terpacu untuk mencari tahu jawaban dari pertanyaannya sendiri.

"Kalau anak tanya, ini PR-nya bagaimana? Orang tua bisa menjawab, coba kamu baca lagi," saran Ajeng Raviando. "Jadi beri kesempatan mereka untuk berproses (mengerjakan PR-nya sendiri), sehingga nanti proses inilah yang akan memberi hasil sesuai dengan kemampuan anak," lanjutnya.

Perlu diingat, membiarkan anak mengerjakan PR sendiri bukan berarti tidak sayang anak, lo. Hal ini justru penting untuk melatih kemandirian anak dalam belajar. Dikatakan Ajeng Raviando, banyak orang tua yang ketika anaknya tumbuh semakin besar, diharapkan mandiri dalam hal belajar. Namun bagaimana mungkin kalau sejak kecil dibantu terus mengerjakan PR-nya?

(Depositphotos)
(Depositphotos)

"Oleh karenanya, mendampingi anak belajar pun tidak perlu terus menerus, cukup sesekali saja," tegas Ajeng Raviando. Akan tetapi, orang tua bisa hadir sebagai pihak yang menjamin situasi kondusif untuk anak belajar atau mengerjakan PR-nya. "Misalnya, orang tua bisa menyediakan camilan yang disukai anak, memberikan pujian agar mereka tambah semangat, atau menyediakan peralatan yang mendukung pengerjaan PR atau tugas sekolah mereka," pungkasnya.

(wida / wida)

Komentar