aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Terapi Ozon, Memasukkan Gas Ozon Ke Liang Vagina. Seperti Apa Rasanya, Ya?

Monday, 16 April 2018 11:30:31 WIB | Wayan Diananto
Terapi Ozon, Memasukkan Gas Ozon Ke Liang Vagina. Seperti Apa Rasanya, Ya?
Terapi ozon, yakni memasukkan gas ozon ke liang vagina. (Foto: Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Merawat organ intim vagina memang gampang-gampang susah. Mengingat, ada banyak problem kesehatan terkait vagina. Selain keputihan, Anda patut mewaspadai vaginistis yakni peradangan di daerah vagina yang menimbulkan perasaan tidak nyaman. Mengapa organ reproduksi rentan terkena infeksi? dr. Rikka Mulya Wirman, SpOG menjelaskan, salah satu penyebabnya letak vagina yang berdekatan dengan uretra alias saluran kemih dan anus (saluran pembuangan).

"Masalah kesehatan organ intim bisanya terkait beberapa penyakit seperti tumor jinak atau ganas, infeksi, dan masalah hormon. Karenanya saya merekomendasikan beberapa pemeriksaan penunjang seperti USG, Histerosalpingografi (HSG), CT scan, dan MRI. Masalah lain yang sering terjadi yakni vagina gatal, panas seperti terbakar, keputihan, terasa kering, dan iritasi yang memicu nyeri saat bersanggama," terang Rikka kepada tabloidbintang.com di Bekasi, Minggu (15/4) kemarin.

Gatal itu bisa disebabkan alergi sabun atau pemakaian celana dalam yang bahannya kurang menyerap keringat. Untuk menjaga kesehatan vagina, teknologi kedokteran menyuguhkan beberapa alterlatif terapi. Salah satunya terapi ozon. Rikka menyatakan, terapi ozon dilakukan dengan melepaskan gas ozon bertekanan rendah ke liang vagina. Terapi ini, kata Rikka, dilakukan dua sampai tiga kali seminggu dengan durasi paling lama 20 menit.

"Gas ozonnya bertekanan rendah sehingga tidak sampai membuat organ intim terasa sakit. Terapi ini mencegah vaginistis khususnya vagina yang terkena jamur. Tujuannya meningkatkan populasi Lactobasilus di mukosa vagina serta membuat kondisi mukosa vagina menjadi normal sehingga memperbaiki sistem imun lokal vagina," dokter dari Klinik Amaryllis, Bekasi, itu menukas.

Komentar