aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

4 Problem Kesehatan Keluarga Indonesia, Nomor 3 Bikin Miris!

Monday, 16 April 2018 04:30:00 WIB | Wayan Diananto
4 Problem Kesehatan Keluarga Indonesia, Nomor 3 Bikin Miris!
Ada 4 Problem Kesehatan Keluarga Indonesia. (Foto: Wayan Diananto)

TABLOIDBINTANG.COM - Kita kerap mendengar kisah seorang pasien meninggal akibat terlambat dibawa ke rumah sakit. Padahal, jika mendapat pertolongan tepat waktu nyawa pasien sangat mungkin ditolong. Cerita semacam ini terus berulang dan membuat kita sadar, problem kesehatan keluarga Indonesia seolah itu-itu saja. Hal tersebut terungkap dalam gelar wicara "Peran Teknologi dalam Meningkatkan Akses Kesehatan" bersama Philips HealthTech di Jakarta, pekan ini.

Presiden Direktur Philips Indonesia, Suryo Suwignjo, menyebut problem kesehatan masyarakat Indonesia sejauh ini ada empat yang disingkat ACCA yakni Accessibility, Capability, Capacity, dan Affordability. Accessibility yakni akses terhadap layanan kesehatan. Indonesia, kata Suryo, kini memiliki banyak rumah sakit. Sayangnya, rumah sakit itu mengelompok di kota-kota tertentu yakni kota besar, terutama rumah sakit yang sifatnya spesialis.

"Buat keluarga di daerah terpencil, sangat susah menjangkau rumah sakit spesialis. Mereka harus naik perahu 3 sampai 4 jam disambung naik mobil 2 jam lagi. Memang ada Jaminan Kesehatan Sosial tapi biaya transportasi harus tetap dibayar. Akhirnya, keluarga di daerah terpencil memilih merawat anggota keluarga di rumah dengan bantuan dukun," terang Suryo kepada tabloidbintang.com.

Kedua, capability. Dokter umum dimana-mana ada, namun dokter spesialis jumlahnya sedikit dan terkonsentrasi di kota-kota besar. Ketiga, capacity. Rumah sakit dan dokter memadai tapi jumlah alat kesehatan sangat terbatas sehingga menciptakan antrean panjang. Fasilitas CT Scan, misalnya.

"Seorang pasien butuh menjalani pemeriksaan CT Scan besok tapi karena alatnya cuma satu sementara pasien yang butuh puluhan, ia mendapat giliran 2 bulan lagi. Akibatnya, sangat terlambat. Berikutnya, affordability yakni apakah orang-orang itu mampu untuk berobat. Dengan kata lain, keterjangkauan biaya kesehatan," sambung Suryo.

Ia menambahkan, "Kami mengakui tidak semua kasus bisa ditangani namun kami menilik apakah ada area tertentu yang bisa dibantu lebih dulu. Kalau dokter spesialisnya hanya ada di Jakarta, maka pasien mesti dikirim ke Jakarta. Kami mencoba memfasilitasi itu."

Komentar