aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Si Kecil Kegemukan. Jangan-jangan, Pola Asuh Anda Penyebabnya!

Friday, 24 November 2017 20:20:21 WIB | Wayan Diananto
Si Kecil Kegemukan. Jangan-jangan, Pola Asuh Anda Penyebabnya!
Obesitas pada anak dipengaruhi banyak faktor. (Foto: Dok. tabloidbintang.com)

TABLOIDBINTANG.COM - Bayi tampak gemuk memang lucu dan menggemaskan. Namun, Anda perlu mengecek apakah bobot si buah hati normal atau termasuk obesitas. Jika dokter menyebut si kecil kegemukan, jangan buru-buru melancarkan diet untuknya. Kenali dulu, mengapa anak Anda obesitas. Konsultan Psikolog Anak, Aurora Lumbantoruan, M.Psi, menyebut obesitas pada anak dipengaruhi banyak faktor. Di antaranya, asupan gizi, status ekonomi, dan pola makan keluarga.

"Selain itu, respons terhadap makanan, aktivitas fisik yang rendah, dan perubahan lingkungan juga berpengaruh. Perubahan lingkungan di sini maksudnya, ketersediaan produk dengan kadar gula maupun lemak tinggi tapi harga murah," ujar Aurora di Jakarta pekan ini. Hal lain yang tak kalah berperangaruh, meningkatnya kesibukan yang membuat risiko stres meninggi.

Anak-anak zaman sekarang punya segudang kesibukan. Dari sekolah hingga kursus. Dalam kondisi stres upaya untuk mempertimbangkan makanan sehat berkurang. Atau sebaliknya, anak-anak jarang melakukan aktivitas fisik. Habis sekolah bermalas-malas di rumah. Rendahnya aktivitas fisik salah satunya dipicu oleh mudahnya mengakses apa yang dibutuhkan lewat jalur digital.

"Ingin pesan makanan, tinggal buka aplikasi. Beberapa menit kemudian makanan datang. Si Mbak menerima makanan itu, bayar, lalu mengantarkannya ke kamar," Aurora menulas. Ia menambahkan, jika si kecil masih balita, acapkali risiko obesitas itu dipicu oleh perilaku orang tua.

"Saat si kecil menangis atau rewel, orang tua enggak mau ribet lalu mengambil solusi instan memberinya makanan agar anteng. Padahal, bukan makanan yang sebenarnya dibutuhkan si kecil saat itu," sambung Aurora.

Akibatnya, terbentuk pola pikir di benak si kecil bahwa dikasih makanan saja sudah cukup. Lama-lama mereka lebih responsif terhadap makanan. Lebih peka terhadap rasa bahkan bau makanan sehingga meski belum waktunya makan, ia cenderung menginginkannya. Jadilah si kecil obesitas. "Ia kemudian tidak lagi peka dengan kapan sebenarnya lapar atau sekadar pengin makan padahal tidak lapar," tutup dia.

Komentar