aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Sebelum Olahraga, Ketahui Batas Maksimal Denyut Nadi Anda

Saturday, 16 September 2017 06:00:01 WIB | Wayan Diananto
Sebelum Olahraga, Ketahui Batas Maksimal Denyut Nadi Anda
Ada banyak hal yang mesti diperhatikan sebelum mulai berolahraga. (Foto: Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Pernah mendengar kabar seseorang meninggal akibat serangan jantung setelah olahraga? Anda mungkin mengomel, habis olahraga bukannya sehat malah mangkat. Dalam talk show "Semua Orang Bisa Menyelamatkan Hidup bersama Royal Philips" di Jakarta, pekan ini, dr. Jetty R. H. Sedyawan, Sp.JP (K), FIHA, FACC. mengingatkan ada banyak hal yang mesti diperhatikan saat olahraga.

"Pertama, olahraga harus proporsional. Kalau Anda mau latihan, perhatikan batas maksimal denyut nadi Anda. Cara menghitungnya begini, 220 dikurangi usia Anda lalu dikalikan 85 persen. Misalnya, 220 dikurangi umur Anda misalnya 30 tahun. Sisanya 190, maka 85 persen dari 190 berapa? Itulah denyut nadi maksimal Anda," ulas Jetty kepada tabloidbintang.com.

Bila perlu, menjalani tes tradmill untuk untuk mengetahui tekanan darah, denyut nadi, kadar kolesterol, irama jantung, serta melacak adakah denyut yang tak teratur. Hal lain yang patut diindahkan, durasi olahraga. Jetty mengingatkan, olahraga maksimal 60 menit.

"Karena setelah 60 menit, risiko cedera meningkat kecuali Anda seorang atlet yang terbiasa latihan keras nyaris setiap hari," terang Jetty seraya menambahkan, "Penting untuk memperhatikan durasi olahraga dan mengecek kondisi kesehatan jantung Anda secara rutin. Mengingat, jantung bekerja 24 jam per hari, 7 hari seminggu."

Kesehatan jantung sendiri saat ini masih menjadi isu utama dalam dunia kesehatan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 2014 memperkirakan ada 10.000 orang per tahun (atau 30 orang per hari) yang mengalami henti jantung mendadak. Data yang sama memproyeksikan bahwa frekuensi henti jantung mendadak akan meningkat seiring peningkatan penyakit jantung koroner dan strok. Diperkirakan, ada 23,3 juta kematian akibat penyakit itu pada tahun 2030.

Sementara itu, data dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia pada 2016 menemukan bahwa angka kejadian henti jantung mendadak berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu insiden setiap tahun.

( wyn / wyn )

Komentar