aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Nyeri Pada Ulu Hati Bisa Jadi Pertanda Penyakit Serius Ini

Wednesday, 8 July 2020 01:00:23 WIB | aura.co.id
Nyeri Pada Ulu Hati Bisa Jadi Pertanda Penyakit Serius Ini
Biasanya, gejala penyakit jantung ditandai dengan nyeri dada. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Biasanya, gejala penyakit jantung ditandai dengan nyeri dada. Namun ternyata ada gejala lain yang tidak khas menyerupai gejala maag seperti mual, muntah, dan nyeri. Jangan sampai salah, ada cara untuk membedakannya.

Kenali Faktor Risikonya

Penyakit jantung menjadi penyebab kematian nomor satu di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Hal itu dibenarkan oleh dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Johan Winata, Sp. JP(K). FIHA. Yang lebih mengkhawatirkan, 22 persen penderitanya berusia 15 sampai 35 tahun.

Menurut dr. Johan, angka kematian mendadak akibat penyakit jantung koroner dalam 10 tahun belakangan terus merangkak naik meski penyebab utamanya tetap karena aritmia atau gangguan irama jantung. Penyakit jantung koroner sendiri disebabkan oleh penyumbatan akibat perlemakan pada pembuluh darah yang bahkan dapat terjadi sejak seseorang berusia 10 tahun.

“Namun progresivitas perlemakan di pembuluh darah setiap orang berbeda. Orang dengan riwayat keluarga memiliki penyakit jantung, gula darah tinggi, dan perokok memiliki risiko tinggi mengalami penyakit jantung koroner. Gaya hidup tak sehat serta kurang aktivitas kemudian turut memicu penumpukan lemak serta kolestrol jahat atau LDL,” terangnya.

Gejala Tidak Khas

Sayangnya, karena ketidaktahuan banyak yang baru mengetahui dirinya terkena penyakit jantung ketika telah mengalami nyeri di bagian dada. “Tujuh puluh persen orang dengan penyakit jantung koroner memiliki gejala nyeri dada yang khas yakni nyeri yang timbul di belakang tulang dada atau lebih ke kiri sedikit. Terkadang nyerinya bisa menjalar ke lengan kiri, menembus ke belakang hingga menjalar ke bagian leher,” beri tahu dr. Johan.

Ditambahkan, nyeri dada karena jantung koroner bisa berbeda intensitas nyerinya, bergantung dari penyebabnya. “Nyeri dada akibat penyempitan pembuluh darah biasanya lebih ringan intensitas nyerinya dibanding nyeri dada karena serangan jantung akibat robeknya pembuluh darah. Kalau karena serangan jantung biasanya disertai gejala keringat dingin dan mual atau nyeri di ulu hati. Nyerinya pun sangat intens dan enggak akan hilang dengan hanya istirahat,” paparnya.

Masalahnya tak semua penderita penyakit jantung akan mengalami nyeri dada. “Tiga puluh persen penderita justru mengalami gejala penyakit jantung yang tidak khas seperti nyeri di bagian dada sebelah kanan, rahang, gigi hingga ujung-ujung jari. Belum lagi nyeri pada ulu hati, mual dan muntah yang juga pertanda penyakit jantung, memiliki gejala yang serupa dengan penyakit maag. Alhasil, terkadang ada misdiagnosis antara penyakit maag dan penyakit jantung karena gejalanya mirip serta tingkat intensitas nyerinya sama,” terangnya.

Membedakannya menurut dr. Johan mudah. “Meski nyerinya mirip, tetap ada perbedaannya. Jika nyeri yang terjadi disertai dengan gejala mulut yang terasa pahit maka itu pertanda bahwa asam lambung naik. Kalau nyeri karena maag biasanya muncul ketika seseorang telat makan. Namun jika nyeri yang dirasakan sangat intens kemudian tidak hilang bahkan ketika beristirahat maka patut diwaspadai bahwa itu gejala penyakit jantung,” jelas dr. Johan.

Ada cara lain yang lebih mudah. “Memang ada beberapa orang yang enggak punya gejala nyeri. Namun sebenarnya tetap ada tandanya. Misalnya orang itu dulu bisa lari 1 km kemudian sekarang lari 800 meter saja sudah enggak kuat. Selain itu, setiap berolahraga, terjadi nyeri biasanya di rahang atau gigi. Itu bisa menjadi pertanda penyakit jantung.” Anda yang mengalami tanda-tanda demikian, terlebih memiliki sejumlah faktor risiko, dr. Johan menganjurkan untuk segera ke dokter. J Agestia/ Foto dokter: Agestia Jatilarasati

Komentar