aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Habis Makan Ugal-ugalan saat Lebaran, Saatnya Berolahraga untuk Menebus “Dosa”

Sunday, 24 May 2020 22:00:23 WIB | aura.co.id
Habis Makan Ugal-ugalan saat Lebaran, Saatnya Berolahraga untuk Menebus “Dosa”
Saat melakukan aktivitas fisik termasuk berolahraga, tubuh menghasilkan hormon endorfin. (depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Ayo jujur, selama Lebaran Anda meluangkan waktu untuk berolahragakah? Atau Anda selama ini menerapkan prinsip selama liburan Lebaran, makan sepuasnya. Usai liburan, barulah makan ugal-ugalan itu ditebus dengan olahraga sekeras-kerasnya? Jika itu prinsip yang Anda anut, ada baiknya mengevaluasi diri dengan kajian dari spesialis keolahragaan dr. Michael Triangto, Sp.KO.

Grafik Penurunan Mirip Plato

Michael mengatakan, prinsip menurunkan berat badan yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia adalah jangan makan melainkan olahragalah seberat-beratnya. Berhasilkah? Ya, berhasil. Namun sampai kapan keberhasilan itu dapat dipertahankan? Sebagai pegangan bagi Anda yang ingin menurunkan berat badan pasca-Lebaran, luruhkanlah 500 kalori per hari saat makan dan berolahraga. “Jika melakukan itu secara konsisten, maka dalam seminggu bobot akan turun 0,5 kg,” terang Michael. 

Dalam sehari (tiga kali makan dan dua kali mengudap camilan), manusia mengasup 2.000 kalori. Jika murni mengandalkan diet, Anda hanya mengudap 1.500 kalori. Dengan pengurangan asupan kalori, kata Michael, berat badan Anda akan turun. Namun, penurunan itu tidak akan berlangsung lama. “Kalau digambarkan, grafik penurunannya menyerupai plato yakni turun kemudian melandai cenderung datar. Lalu Anda mencoba mengurangi 500 kalori lagi. Sehari Anda hanya mengonsumsi 1.000. Berhasilkah dengan teknik seperti ini? Tidak. Lantas dengan hanya mengandalkan olahraga, Anda membakar 500 kalori lalu ditambah 500 kalori lagi, itu setara dengan half marathon. Ini pun tidak akan efektif. Keduanya harus dijalankan beriringan. Tetap makan dan tetap berolahraga,” ungkap dia.

Habis liburan dan Lebaran, jangan diet terlalu ketat. Mulailah dengan hal sederhana yakni memangkas 350 kalori dari porsi menu per hari dan membakar 150 kalori melalui olahraga ringan seperti jalan cepat atau lari selama 30 menit. Kalau malas menghitung jumlah kalori dalam menu, siasati dengan tidak mengudap camilan. Penurunan terjadi tidak secara instan. Inilah yang membuat orang tidak sabar. Padahal, makan dan olahraga itu proses berkesinambungan.

Tubuh Kita Seperti Bohlam

Ada pula yang menjadikan olahraga tatacara penebusan dosa. Malam ini makan ugal-ugalan. Besok dosa itu ditebus dengan lari di atas mesin treadmill selama satu jam. “Itu sama seperti Anda bertanya, boleh enggak malam ini saya mencuri lalu besok membuat pengakuan dosa kepada pemuka agama? Jelas, jawaban saya tidak boleh. Konsep olahraga Anda harus benar dulu. Bukan berarti Anda tidak boleh makan enak. Boleh asal jangan berlebihan,” Michael menukas.

Ia melanjutkan, “Umpamakan tubuh Anda seperti bohlam. Kalau tegangan yang rendah tiba-tiba ditinggikan, bohlam memang bisa menyala. Jika kenaikan tegangan dari rendah ke tinggi itu terjadi berulang-ulang, bohlam semahal apa pun lama-lama akan rusak. Begitulah jadinya jika pola makan dan olahraga Anda naik turun secara ekstrem. Tubuh Anda akan kena dampaknya.”

Michael menyebut, sehabis Lebaran dan liburan adalah momen yang tepat untuk menjadikan olahraga sebagai kebiasaan. Jadikanlah olahraga gaya hidup. Terbiasa beraktivitas fisik lalu berhenti untuk jangka waktu tertentu akan membuat Anda merasa kehilangan sesuatu. Alasannya, saat Anda melakukan aktivitas fisik termasuk berolahraga, tubuh menghasilkan hormon endorfin.

Hormon endorfin adalah zat kimia selayaknya morfin yang diproduksi sendiri oleh tubuh. Endorfin berfungsi mengurangi rasa sakit, memicu perasaan senang sekaligus tenang. Hormon ini diproduksi sistem saraf pusat serta kelenjar hipofisis. Untuk mendapatkan morfin alami ini, Michael menyarankan Anda untuk berolahraga dari level ringan dulu.
Misalnya, lari dengan keceparan 6,5 km per jam selama 30 menit. Setelah Anda merasa lari 6,5 km bukan tantangan berat, lakukan satu dari dua kemungkinan ini yakni menambah durasi atau menambah kecepatan. “Jika ada waktu senggang, silakan bertahan di 6,5 km per jam tapi durasi ditambah 15 sampai 30 menit. Jika tidak mungkin menambah waktu karena harus bekerja, pertahankan durasi namun tambah kecepatan menjadi 7 km per jam atau 7,5 km per jam, misalnya,” pungkas dia.

Komentar