aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Ria Irawan Divonis Kanker Setelah Operasi Miom Sebesar Kepala Bayi

Tuesday, 7 January 2020 11:00:23 WIB | Redaksi
Ria Irawan Divonis Kanker Setelah Operasi Miom Sebesar Kepala Bayi
Ria Irawan meninggal dunia pada Senin (6/1) di RSCM Jakarta. (Dok tabloidbintang.com)

TABLOIDBINTANG.COM - Ria Irawan meninggal dunia pada Senin (6/1) di RSCM Jakarta. Ia meninggal karena menderita penyakit kanker getah bening. 

Penyakit kanker getah bening terdeteksi setelah Ria menjalani operasi pengangkatan rahim  pada 2014 lalu.  Adapun operasi tersebut dilakukan setelah Ria Irawan merasakan ada yang tak beres di dalam perutnya. 

Ceritanya, sebelum 2009, setiap haid, Ria Irawan merasa perutnya sakit. Bahkan suatu saat haidnya tidak berhenti, hingga membuatnya lemas. Ia memeriksakan diri ke dokter kandungan. Dokter menemukan miom di rahim Ria. Mioma uteri adalah tumor jinak dari miometrium (otot rahim). Sejatinya, Ria sedikit telat memeriksakan diri.  “Saya kaget dan bingung saat mengetahui ada tumor jinak di rahim saya. Dokter menyarankan saya untuk operasi pengangkatan rahim, tapi saat itu saya tidak mau. Saya ingin punya suami dan anak. Saya masih bermimpi bisa melahirkan anak dari rahim saya,” kata Ria kepada tabloid Bintang Indonesia pada 2014 lalu.

Ria memilih berobat jalan. Ia mencoba peruntungan dengan berobat alternatif dan herbal. “Semua alternatif di Indonesia dan luar negeri sudah saya coba. Saya sudah minum rebusan daun sirsak dan akar-akar lainnya. Mungkin obat itu mampu mengobati orang lain, tapi tidak untuk saya,” ungkapnya. Bukannya sembuh, miom malah makin besar setiap dirinya haid. “Kata dokter, setiap haid hormon saya akan kacau dan akan menjadi sumber makanan bagi miom saya. Makanya miom saya bertambah besar,” bebernya. 

Ria Irawan (Dok tabloidbintang.com)
Ria Irawan (Dok tabloidbintang.com)

Ria masih enggan naik meja bedah. Dia mencegah pembesaran miom dengan cara menghentikan haid. Setiap beberapa bulan, ia disuntik di bawah kulit pusar dan ketiak. Ria yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan syuting mampu sejenak melupakan miom yang ada di rahimnya. Namun, sekali waktu perutnya kembali mulas dan sakit. “Sakitnya itu kayak usus buntu. Saat saya periksa, ternyata miom saya makin besar,” ujar Ria. 

Ria berobat alternatif di Singapura dan Malaysia. Sepulang dari Malaysia, Ria merasa tubuhnya lebih enak. Ria merasa sudah sembuh; namun sayang Ria tidak memastikan kesembuhannya kepada dokter. Rasa mulas boleh menghilang, tapi tidak dengan tumornya yang mengganas. Lagi, dokter menyarankan Ria menjalani operasi miom dan mengangkat rahimnya. Lagi-lagi Ria menolaknya, “Saya belum siap dan belum ikhlas.”

Sejak divonis miom dan harus menjalani operasi pengangkatan rahim, perempuan yang merayakan ulang tahun setiap 24 Juli ini sering salat duha dan tahajud untuk meminta petunjuk pada Allah. Di keheningan malam saat orang-orang terlelap, Ria memohon jalan terbaik untuk dirinya. Di pagi har, saat orang tengah sibuk mengejar rezeki, Ria menemui Allah dengan salat duha. Dari perjalanan spiritualnya itu, Ria menemukan kata ikhlas. 

Ia harus ikhlas menerima penyakit itu, ia harus ikhlas jika rahimnya diangkat. Ia harus ikhlas dirinya tidak lagi sesempurna wanita pada umumnya. Ia harus ikhlas tidak memiliki anak dari rahimnya sendiri. “Mengucap kata ikhlas dan menyarankan agar orang lain ikhlas itu mudah, tapi berat untuk menjalaninya. Saya harus mengubur mimpi saya untuk punya anak. Anehnya, saya ingin punya anak, padahal suami saja tidak, hahaha,” Ria tertawa.

Miom di rahim Ria membesar, rasa sakit yang dialami Ria makin menjadi. Ria berteriak saat perutnya sakit. “Rasa takut, cemas, waswas, dan membayangkan yang tidak-tidak jika rahim diangkat, sudah lewat. Semua fase mencekam itu kini sudah tidak ada lagi. Saya sudah ikhlas,” bebernya. Setelah 5 tahun berjuang untuk mempertahankan rahimnya, Ria sampai di titik ikhlas. Ikhlas menjalani operasi pengangkatan rahim dan miom.

Doa Ria saat salat tahajud dan duha dikabulkan Allah. Saat siap untuk menjalani operasi pengangkatan rahim, Rere, manajernya, memberi kabar tentang berobat gratis lewat BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan. Ria mengurus kartu BPJS sendiri. Ia juga memeriksakan diri ke puskesma dan minta surat pengantar untuk berobat ke rumah sakit. “Awalnya saya tidak percaya bisa operasi gratis alias nol rupiah. BPJS sangat bermanfaat bagi saya dan masyarakat lainnya,” Ria mengucap terima kasih kepada BPJS. 

Ria menjalani operasi pengangkatan rahim pada 30 September 2014, di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan. “Miomnya sudah sebesar kepala bayi. Ini lihat saja fotonya. Ini juga foto rahim saya yang sudah diangkat,” celoteh Ria dengan santai. Sejak pengangkatan rahim, rasa mulas yang kerap menyerang perut kanan bawah sudah hilang. Ria lega, bahagia, meski sudah tidak memiliki rahim. “Untuk memiliki anak, tidak harus dari rahim kita. Banyak cara untuk memiliki anak,” katanya. 

Pada operasi itu, dokter mengambil kelenjar untuk biopsi. Biopsi adalah pengambilan jaringan tubuh untuk pemeriksaan di laboratorium. Menunggu hasil 2 minggu, tepatnya pada 16 Oktober, dokter memberi kabar yang membuat jantung Ria terasa terhenti sejenak.  “Ternyata, saya positif kanker getah bening stadium 3. Beruntung terdeteksi dengan cepat. Kalau telat dan sudah stadium 4, bisa menyerang paru-paru,” beri tahu Ria. “Alhamdulillah paru-paru dan jantung saya bagus,” imbuhnya. Tidak hanya Ria yang syok dengan vonis dokter. Keluarga besar juga panik, terutama ibunda Ria, Ade Irawan, dan kakaknya yang juga pemain sinetron, Dewi Irawan. “Pasti mereka kaget. Namun mereka berusaha menghibur saya. Ini sudah takdir saya. Saya harus kuat menghadapi ini semua,” tukas Ria Irawan kala itu.

Komentar