aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Saat Menebus Obat ke Apotek, Perhatikan Hal Berikut Ini

Sunday, 20 October 2019 13:00:46 WIB | Panditio Rayendra
Saat Menebus Obat ke Apotek, Perhatikan Hal Berikut Ini
Wanita minum obat (Deposit Photos)

TABLOIDBINTANG.COM - Anda berobat ke dokter, menerima resep, lalu menebus obat ke apotek. Saat menebus obat ke apotek, ada baiknya Anda berkomunikasi dengan apoteker terkait jenis obat, cara konsumsi, dan bolehkah obat itu disimpan saat kondisi fisik sudah membaik.

Hal ini disampaikan Ketua Umum Ikatan Apoteker Indonesia, Nurul Falah Eddy Pariang, di Jakarta, belum lama ini. Pasien atau keluarga pasien jangan ragu bertanya dengan detail. Perhatikan pula apakah ia mau mengenali pasiennya. Apoteker yang baik mau mengenali pasien.

“Dokter mengisi medical record, apoteker yang baik mengisi patient medication record. Jadi kalau pasien melanggani apotek, pihak apotek mesti mencatat obatnya, menjelaskan manfaat termasuk cara mengonsumsi. Saat pasien datang membawa resep obat yang berbeda dari sebelumnya, apoteker mestinya mencatat dan bila perlu menanyakan terkait penyakitnya,” beri tahu Eddy. Apoteker yang baik juga menjalin komunikasi dengan pasien, menelepon untuk memantau terkait proses pemulihan.

Bahkan dalam standar pelayanan kefarmasian yang tertera di Peraturan Menteri Kesehatan rilisan Kemeterian Kesehatan Republik Indonesia disebutkan apoteker berperan melakukan homecare khususnya untuk pasien yang sudah tua. Tujuannya, memastikan cara mereka mengonsumsi obat. “Pilihlah apotek yang terdekat dan dijadikan apoteker keluarga. Anda berhak menghubungi apoteker sebagai mitra, kalau tidak merespons, Anda bisa pindah ke apoteker lain yang lebih mampu melayani secara personal,” sambung Eddy.

Ada kalanya dokter meresepkan sejumlah obat termasuk antibiotik. Terkait antibiotik Eddy telah mengimbau segenap apotek untuk tak menjualnya tanpa resep dokter. Kalau ada resep antibiotik, apoteker wajib menjelaskan bahwa itu antibiotik dan harus dihabiskan. Ada antibiotik berupa 10 sampai 15 tablet. Ada antibiotik dosis tunggal untuk dikonsumsi selama 3 hari. “Di sisi lain, pasien harus kritis bertanya adakah antibiotik dalam resep yang diberikan dokter, berapa banyak, dan bagaimana mengonsumsinya,” Eddy menjabarkan.

Eddy menyampaikan hal itu usai menandatangani kesepakatan program kerja sama untuk meningkatkan kapasitas apoteker Indonesia secara berkelanjutan dengan PT Merck Tbk. Penandatanganan dilakukan Eddy dan Direktur PT Merck Tbk, Evie Yulin, disaksikan Regional Vice President Merck Asia Pacific, Andre Musto. “Dukungan yang diberikan Merck dalam kerja sama ini berupa referensi materi untuk pembuatan modul pelatihan terakreditasi oleh IAI, dan dukungan logistik pelaksanaan program kepada 1.650 apoteker,” beber Evie.

Komentar