aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

10 Mitos dan Fakta soal Menurunnya Gairah Bercinta - Bagian 1

Wednesday, 9 October 2019 02:00:23 WIB | Redaksi
10 Mitos dan Fakta soal Menurunnya Gairah Bercinta - Bagian 1
Banyak pasangan mengalami hilangnya gairah bercinta. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Adakah pernikahan yang sempurna? Rasa-rasanya tidak. Setiap pernikahan akan melewati proses panjang, termasuk hambatan-hambatan dan masalah di dalamnya. Masalah yang sering jadi pusat perbincangan, masalah di tempat tidur, salah satunya hilangnya gairah bercinta. Jika ini terjadi dalam pernikahan Anda, jangan khawatir. Banyak pasangan mengalaminya juga lho. 

Dr. David Schnarch dan Ruth Morehouse yang berpengalaman lebih dari 40 tahun di bidang klinis menyajikan 10 mitos berikut. Keduanya melakukan banyak penelitian seputar seks dan perkawinan. Mereka menganggap perkawinan yang kurang bergairah tidak terjadi karena panjangnya usia perkawinan, usia dua orang yang terlibat (pasangan suami istri), atau karena adanya gangguan fisik! Apa kata David dan Ruth mengenai mitos yang keliru ini?

1. Mitos: Pasangan yang tak punya gairah bercinta umumnya jarang atau tak pernah bercinta.

Fakta: Pasangan seperti ini masih melakukan hubungan suami istri. Mereka hampir setiap hari bercinta saat masih pengantin baru. Beberapa tahun kemudian, pola bercintanya mulai berubah, sekitar 1 atau 2 kali dalam sebulan. Kadangkala 3 atau 4 bulan berjalan tanpa hubungan seks. Kalaupun bercinta, lebih seperti mekanis, tanpa gairah yang menggebu. Bukan tidak mungkin keduanya mencapai orgasme, namun tak ada gairah, erotisme atau pun keinginan untuk memuaskan pasangan.

2. Mitos: Pasangan yang tak punya gairah bercinta biasanya berumur lebih tua.

Fakta:  Kendati frekuensi seks menurun seiring bertambahnya usia, banyak juga pasangan muda yang tak lagi bercinta. Justru karena adanya stereotipe tentang pasangan muda yang bercinta sepanjang waktu, mereka cenderung berdiam diri saat timbul masalah. Diam-diam hanya bisa menyesali hubungan mereka yang kacau. Banyak orang menganggap kehidupan seksual yang prima dialami pada masa remaja. Tapi ini anggapan yang berdasarkan pada respons genital. Banyak orang yang punya kehidupan seks lebih baik justru saat usia mereka semakin matang. Begitu merasa nyaman dengan seksualitas dan tubuh Anda --menerima diri sendiri secara umum -- benar-benar membantu. Jadi selulit dan potensi seksual ternyata punya korelasi yang tinggi.

(Depositphotos)
(Depositphotos)

3. Mitos: Pihak perempuan dianggap sebagai pasangan yang kurang bergairah.

Fakta: Setengah dari pasangan yang mendatangi Marriage and Family Health Center untuk masalah gairah seksual, justru lelaki yang gairah seksnya berkurang. Beberapa studi menemukan, para perempuan lebih banyak melaporkan gairah seksualnya yang dianggap kurang. Tetapi ini bisa berarti perempuan lebih sensitif terhadap kekurangannya dan lebih punya niat untuk memperbaiki kondisi. Pasangan gay dan lesbian pun mengalami masalah mengenai gairah seksual.

4. Mitos: Pasangan dengan gairah yang lebih rendah terobsesi dengan seks. 

Fakta: Dalam setiap pasangan, ada pihak yang lebih rendah gairahnya ketimbang yang lain, terlepas dari Anda memiliki masalah seksual atau tidak. Pasangan yang gairahnya rendah ataupun tinggi punya posisi relatif dalam hubungan mereka. Bukan sesuatu yang dengan gampangnya dihitung berdasarkan frekuensi. Dalam banyak kasus, orang yang gairahnya lebih rendah malah lebih erotis, dalam arti mereka lebih punya banyak pengalaman seks ketimbang yang gairahnya lebih tinggi. Mereka yang gairahnya lebih rendah merasa, kehidupan seks mereka tidak terlalu penting, tidak begitu pantas diharapkan, makanya tidak lagi tertarik. 

5. Mitos: Bercinta akan dengan sendirinya mati dalam sebuah perkawinan. Pasangan yang tidak menikah dianggap lebih senang bercinta.

Fakta: Penelitian menunjukkan sebaliknya. Bahwa aktivitas seksual pasangan menikah justru lebih hot ketimbang mereka yang tidak menikah. Pasangan menikah lebih senang bercinta, dengan gaya variasi yang lebih banyak ketimbang mereka yang masih melajang. Sebagai contoh, seks oral jutsru lebih umum dilakukan pasangan yang menikah daripada mereka yang melajang. Banyak pasangan menikah telah melalui periode-periode sulit hingga aktivitas seks sempat mereda. Tapi ini bukan alasan sebagai matinya aktivitas seksual di antara pasangan menikah.

Komentar