aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Saat Sel Kanker Pura-pura Tidur dan Bersembunyi di Tubuh Anda

Wednesday, 14 August 2019 19:00:23 WIB | Redaksi
Saat Sel Kanker Pura-pura Tidur dan Bersembunyi di Tubuh Anda
Pasien kanker payudara mesti berdiskusi dengan tim dokter terkait tipe dan jenis pengobatan yang mesti ditempuh. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Sel kanker sangatlah cerdas. Selain berpura-pura tidur, ia juga bisa bersembunyi. Karenanya, penyakit ini selalu menjadi ancaman mematikan bagi manusia. Kaum hawa lantas bertanya, apa yang mesti dilakukan saat sel kanker terlelap?

4 Tempat Persembunyian

Spesialis Bedah Onkologi dari RSUP Fatmawati Jakarta, dr. M. Yadi Permana SpB (Onk) menjelaskan, usai menjalani pengobatan, sangat mungkin tersisa sel kanker dalam tubuh pasien. Biasanya mereka tidur. Kemampuan pura-pura tidur ini disebut dorman. Karenanya kepada pasien yang telah menyelesaikan rangkaian pengobatan, Yadi tidak mengatakan bahwa ia telah sembuh melainkan sel-sel kanker telah 100 persen terkontrol.

“Tujuannya, agar pasien sadar bahwa sewaktu-waktu sel kanker bisa kembali. Apa saja yang membuat sel-sel kanker bisa terbangun? Pola makan tidak teratur, kurang istirahat, dan tak sengaja mengasup makanan yang mengandung zat pemicu kanker,” ujar Yadi di Jakarta, pekan lalu.

Pasien kanker payudara yang telah menyelesaikan pengobatan diminta rajin menjalani sejumlah pemeriksaan. Pertama, rontgen di sekitar dada. Kedua, USG di area perut. Ketiga, PET scan untuk melacak kejanggalan di sekujur tubuh. Terakhir, tumor marker. Tumor marker adalah pemeriksaan darah untuk memantau eksistensi sel kanker yang berpotensi bangun. Pemeriksaan ini penting mengingat, selain pura-pura tidur, sel kanker bisa bersembunyi.

“Dalam kasus kanker payudara, sel-sel preman itu bisa kabur lalu bersembunyi di tulang, lever, paru-paru, dan otak. Setelah menyelesaikan pengobatan, pemeriksaan dilakukan 6 bulan sekali selama setahun. Setelah dinyatakan 100 persen terkontrol selama setahun, pasien menjalani pemeriksaan setahun sekali,” beri tahu Yadi kepada Bintang.

Dalam kesempatan itu, Yadi meluruskan tiga salah kaprah terkait kanker payudara. Pertama, pengidap kanker payudara pasti meninggal. Menurut Yadi, semua orang pasti meninggal. Tak harus kena kanker dulu baru meninggal. Kedua, payudara penderita kanker payudara harus diangkat. Yadi meluruskan, jika sel kanker terlacak pada stadium awal, pasien menjalani bedah payudara. Bagian payudara yang terjangkit kanker diangkat lalu ditambal menggunakan otot atau jaringan kulit di sekitarnya. Tujuannya, untuk mempertahankan keindahan bentuk payudara.

(Depositphotos)
(Depositphotos)

Tipe dan Stadium

“Terakhir, penderita kanker payudara harus menjalani kemoterapi. Ini juga salah. Pengobatan kanker payudara itu berdasarkan tipe. Ada 4 tipe kanker payudara berdasarkan tingkat agresivitasnya yakni luminal A, luminal B, her2 positif, dan tripel negatif. Yang paling sedikit pilihan pengobatannya yakni tripel negatif. Ini sekaligus menjawab asumsi khalayak yang menyebut tipe kanker payudara itu sama saja dengan stadium. Beda,” ia menukas.

Stadium, kata Yadi, merupakan pembedaan kanker berdasarkan penyebarannya. Penentuan stadium dilandasi 3 komponen yakni T, N, dan M. “T itu tumor. Bagaimana deskripsi tumornya? Sebesar apa? Sudah menyentuh permukaan kulit atau belum, dan apakah sudah meluas sampai ke jaringan otot. N adalah node, yakni apakah sel kanker telah menjalar ke kelenjar getah bening di ketiak, di bawah, dan di atas tulang selangka. Sedangkan M merujuk pada metastasis yaitu sejauh mana sel kanker telah menyebar,” Yadi memaparkan.

Pengidap kanker payudara luminal A dan B, cukup dioperasi dan menjalani terapi hormon untuk mengontrol kadar estrogen dalam tubuh. Salah satu pemicu kanker payudara, paparan hormon estrogen yang terlalu lama. Paparan ini salah satunya dipicu penggunaan alat kontrasepsi (yang memengaruhi hormon) dalam waktu lebih dari 8 tahun.

“Terapi hormon diterapkan berdasarkan usia pasien. Jika sudah menopause, pasien hanya diberi obat-obatan. Jika belum menopause, diberi obat dan suntikan. Kalau mendekati menopause, biasanya tim dokter mengangkat indung telur pasien agar ia menopause lalu dikontrol dengan obat. Kuncinya, saat salah satu anggota keluarga Anda divonis mengidap kanker payudara, berdiskusilah dengan tim dokter terkait tipe dan jenis pengobatan yang mesti ditempuh,” pungkasnya.

Komentar