aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Frekuensi Hubungan Seks yang Ideal Berdasarkan Usia

Saturday, 13 July 2019 02:00:23 WIB | Wayan Diananto
Frekuensi Hubungan Seks yang Ideal Berdasarkan Usia
Berhubungan intim salah satu bukti cinta Anda terhadap pasangan. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Ada banyak faktor yang membuat rumah tangga langgeng. Salah satunya, berhubungan intim. Konon, frekuensi berhubungan intim menunjang kehangatan rumah tangga. Berhubungan intim bukan soal nafsu semata. Menurut dr. H. Boyke Dian Nugraha, SpOG MARS, berhubungan intim salah satu bukti cinta Anda terhadap pasangan. Idealnya berapa kali seminggu kita mesti berhubungan intim dengan pasangan?

“Tergantung kebutuhan pasangan, usia, dan riwayat produktivitas pasutri,” jawab Boyke dalam sesi wawancara empat mata di Jakarta, belum lama ini. Ia menambahkan, “Jika usia pasutri di bawah 30 tahun, seminggu bisa tiga kali atau lebih. Usia 30 sampai 40 tahun, biasanya seminggu dua kali. Usia 40 sampai 50 tahun seminggu biasanya satu sampai dua kali. Usia 50 sampai 60 tahun, seminggu sekali.”

(Depositphotos)
(Depositphotos)

Namun berdasarkan pengalaman menangani sejumlah pasien, Boyke pernah menemukan kasus ada laki-laki yang usianya 60 tahun lebih masih bisa berhubungan intim dua hingga tiga kali seminggu. Kejadian ini membuat istrinya syok.

“Bisa jadi karena si suami senang berolahraga. Suka bermain tenis, misalnya. Daya tahan tubuh dan staminanya awet prima. Kemungkinan lain, ia sangat mencintai pasangan. Seberapa besar kebugaran dan seberapa tinggi kesibukan juga turut menentukan,” Boyke mengingatkan seraya menambahkan, “Pada usia 50 sampai 60 tahun, saat sudah pensiun, orang malah lebih bisa menikmati seks.”

Diceritakan Boyke, beberapa pasiennya mengeluh karena suami mereka ketika masih produktif bekerja hanya sekali seminggu melakukan aktivitas seks. Setelah pensiun malah minta berhubungan intim hingga 3 bahkan 4 kali dalam seminggu.

“Begini, berhubungan seks itu membutuhkan energi sama seperti bekerja. Mungkin ketika masih produktif, energinya habis buat ngantor. Setelah pensiun, ia punya stok energi yang disalurkan dengan berhubungan seksual,” pungkas Boyke.

Komentar