aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Hindari Mencuci Daging Ayam sebelum Dimasak, Ini Alasannya

Wednesday, 29 May 2019 01:00:29 WIB | TEMPO
Hindari Mencuci Daging Ayam sebelum Dimasak, Ini Alasannya
Ayam panggang (ilustrasi Deposit Photos)

TABLOIDBINTANG.COM - Daging ayam adalah salah satu makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Sebelum diolah menjadi berbagai jenis menu, biasanya daging ayam dicuci terlebih dahulu. Ternyata hal tersebut tidak dianjurkan karena bisa menimbulkan masalah kesehatan.

Hal tersebut diungkapkan para ahli di Centers for Disease Control & Prevention (CDC). "Jangan pernah mencuci daging ayam mentah! Mencuci dapat menyebarkan kuman dari daging ayam ke makanan atau perkakas lain di dapur Anda,” tulis mereka di akun Twitter.

Dikutip di laman Times of India, Senin, 27 Mei 2019, daging ayam mentah mengandung bakteri seperti campylobacter dan salmonella. Bakteri ini diketahui menyebabkan sakit perut, diare, dan keracunan makanan parah.

Dinas Kesehatan Nasional Inggris menyebutkan, ketika daging tersebut dicuci, bakteri tersebut akan menyebar ke berbagai tempat yang dilewati air. Itulah yang membuat para ahli menyarankan agar tidak mencuci ayam sebelum dimasak. Ditambah, Anda disarankan menggunakan sarung tangan saat mengolah daging ayam untuk menghindari penyebaran bakteri melalui tangan.

Bakteri pada ayam hanya dapat hilang dengan cara memasaknya pada suhu yang tepat, seperti disarankan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA). Suhu yang disarankan untuk memasak ayam adalah 165 derajat Celsius. Aturan yang sama berlaku untuk ikan dan jenis daging lainnya.

Tapi, bagi Anda yang sulit menghilangkan kebiasaan mencuci daging ayam, Anda dapat menggunakan handuk kertas untuk membersihkan ayam dan menghilangkan kekhawatiran. Anda juga dapat menggunakan cara lain, misalnya merebusnya dengan air yang telah dicampur kunyit, lada hitam, dan garam, selama dua menit, lalu buang airnya. Selanjutnya, Anda bisa mencucinya dengan air sebelum diolah menjadi makanan.

TEMPO.CO

Komentar