aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Mengenal Kanker Nasofaring dan Getah Bening yang Merenggut Nyawa Arifin Ilham

Thursday, 23 May 2019 06:30:48 WIB | TEMPO
Mengenal Kanker Nasofaring dan Getah Bening yang Merenggut Nyawa Arifin Ilham
Ilustrasi Kanker Nasofaring.

TABLOIDBINTANG.COM - Ustadz Arifin Ilham menderita dua penyakit, yakni kanker kelenjar getah bening dan kanker nasofaring. Kedua penyakit itu telah berada di stadium akhir. Pendiri pesantren Az-Zikra itu akhirnya meninggal dunia setelah berjuang melawan penyakitnya di Penang, Malaysia.

Sebelum menghemuskan nafas terakhir, Arifin Ilham beberapa kali melewati masa kritis. Karena kondisi kritisnya, beberapa kali beredar berita hoax yang mengabarkan meninggalnya sang ustaz.

Dikutip dari Web MD, kanker getah bening atau limfoma dimulai pada sel-sel yang melawan infeksi dari sistem kekebalan tubuh, yang disebut limfosit. Sel-sel ini berada di kelenjar getah bening, limpa, timus, sumsum tulang, dan bagian lain dari tubuh. Limfosit berubah dan tumbuh di luar kontrol.

Ada dua jenis utama limfoma, yaitu non-Hodgkin yang paling banyak diderita, dan Hodgkin. Pengobatan kedua jenis ini dilakukan dengan cara yang berbeda. Meskipun berbahaya, limfoma dapat disembuhkan, tergantung pada jenis limfoma dan stadiumnya.

Sementara, kanker nasofaring atau nasopharyngeal carcinoma merupakan jenis kanker yang berkembang di antara kepala dan leher, dimulai di bagian atas tenggorokan, di belakang hidung yang disebut dengan nasofaring. Kanker yang terhitung langka ini belum diketahui penyebab pastinya. Namun para ilmuwan percaya bahwa kanker nasofaring memiliki keterikatan dengan virus Epstein-Barr (EBV).

Dalam penelitian, para ilmuwan menemukan hubungan antara materi genetik atau DNA dari virus yang dapat mempengaruhi DNA di dalam sel-sel nasofaring. Perubahan DNA pun menyebabkan sel tumbuh dan membelah secara tidak normal, sehingga menyebabkan kanker.

Kanker ini disebut kebanyakan terjadi pada orang di kawasan Cina dan Asia tenggara, juga Afrika Utara. Selain itu, risiko terkena penyakit ini meningkat pada pria yang memiliki riwayat keluarga nasofaring, memiliki gen kanker, dan pernah kontak dengan EBV.

TEMPO.CO

Komentar