aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

4 Alasan Orang Tua Masih Enggan Memberikan Imunisasi Untuk Si Buah Hati

Friday, 26 April 2019 14:00:31 WIB | Wayan Diananto
4 Alasan Orang Tua Masih Enggan Memberikan Imunisasi Untuk Si Buah Hati
Imunisasi memiliki banyak manfaat untuk kesehatan serta tumbuh kembang si kecil. (Foto: Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Imunisasi maupun vaksin tampaknya masih menjadi polemik bagi sebagian masyarakat Indonesia. Berbagai fakta dan hoaks seputar imunisasi terus dikaji untuk dijernihkan. Hal tersebut terungkap dalam gelar wicara "Imunisasi Lengkap dan Nutrisi Tepat untuk Mendukung Indonesia Sehat" di Jakarta, pekan ini. Sekretaris Satgas Imunisasi Pengurus Pusat IDAI, Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, SpA(K), Msi, menegaskan, imunisasi bagaimana pun sangat bermanfaat buat anak-anak.

"Benar, imunisasi bermanfaat bagi kesehatan anak-anak. Buktinya, semua negara punya program imunisasi lengkap secara berkala. Mengapa masih ada orang tua di Indonesia yang meragukan imunisasi? Berdasarkan pengamatan saya, ada beberapa faktor yang melatarbelakangi. Pertama, kurangnya informasi mendetail seputar imunisasi. Kedua, tidak tahu jadwal imunisasi. Ketiga, tidak tahu bahwa imunisasi dibuat oleh para ahli di semua negara," ujar Soedjatmiko kepada tabloidbintang.com.

Sebagian orang tua, kata Soedjatmiko, masih berpikir imunisasi buatan pabrik yang kurang terjaga kredibilitasnya. Terakhir dan tak kalah penting, banyak hoaks antivaksin yang disebarkan orang berdasarkan data dari negara lain. Padahal, kondisi negara satu dengan negara lain berbeda. Hoaks juga dibuat dengan mengutip jurnal-jurnal lawas yang sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini. Salah satu hoaks yang paling mengganggu, vaksinasi menimbulkan autisme, kelumpuhan, dan mengandung racun. 

"Kalau benar menyebabkan autisme dan lumpuh, mengapa semua negara di dunia merekomendasikan vaksinasi? Mengapa banyak penelitian medis menyebut imunisasi bermanfaat? Hoaks itu pendapat pribadi meski yang berpendapat bergelar doktor dan psikolog. Di Inggris misalnya, seorang dokter bedah mengaku meneliti 12 anak yang telah divaksin MR (Measles dan Rubela) lalu mengidap autisme," beber Sopedjatmiko.

Soedjatmiko menambahkan, "Ternyata, dokter ini memalsukan data. Lima anak yang diuji memang sudah punya masalah perkembangan tubuh sejak awal sementara 7 lainnya bukan pengidap autisme. Akhirnya, hasil penelitian itu dibatalkan, dicabut publikasinya, dan belakangan terbukti ia menerima suap dari pengacara yang ingin menuntut sejumlah dokter. Akibatnya, izin praktik sang dokter pun dicabut. Saya percaya di Indonesia banyak orang tua yang cerdas dalam menyikapi hoaks.” 

Komentar