aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Stres Bisa Jadi Pemicu Diabetes Seperti yang Diidap Mus Mulyadi

Thursday, 11 April 2019 21:30:26 WIB | TEMPO
Stres Bisa Jadi Pemicu Diabetes Seperti yang Diidap Mus Mulyadi
Ilustrasi (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Musisi keroncong legendaris Mus Mulyadi tutup usia setelah mengidap diabetes hingga akhirnya mengakibatkan kebutaan. Diabetes yang dialami suami Helen Sparingga ini memang dapat dipicu oleh berbagai hal. Salah satunya adalah stres yang dialami dalam waktu lama.

Seperti yang dilansir dari laman Times of India, Ketua Fortis C-DOC Anoop Misra, bersama ahli kesehatan lainnya memperingatkan akan adanya perubahan gaya hidup dan rutinitas sehari-hari. Saat ini, stres dipandang sebagai penyebab munculnya beberapa bahaya kesehatan, termasuk diabetes. Pelepasan beberapa hormon yang trekait stres, adrenalin dan kortisol, bisa meningkatkan kadar gula dalam darah, selain tekanan darah dan denyut nadi. Dan apabila stres tinggi dirasakan secara konsisten, elevasi gula yang sebelumnya biasa menjadi tinggi. Akhirnya pun mengakibatkan diabetes.

“Begitu juga peningkatan tekanan darah, naik terus. Stres juga menyebabkan perubahan pola makan sehingga meningkatkan berat badan yang dapat menambah elevasi gula darah,” kata dia.

Sunil Mittal, seorang sikiater Senior yang juga Direktur Cosmos Institute of Mental Health and Behavioural Sciences mengungkapkan, stres fisik dan emosional dapat mendorong peningkatan hormon yang mengakibatkan peningkatan gula darah. “Kedua, stres juga dapat menyebabkan disregulasi serupa pada hormon anak-anak. Jika mereka berada di bawah stres konstan dalam lingkungan rumah, anak-anak mungkin memiliki keadaan dysmetabolic,” katanya.

Sementara Konsultan Senior (endokrinologi) di BLK Super Speciality Hospital, Ajay Kumar Ajmani juga menerangkan, sesuai dengan temuan terbaru, hormon stres menyebabkan perubahan epigenetik pada sperma. Jadi, ketika seorang ayah sedang stres, hormon dapat berpotensi meningkatkan kadar gula darah pada keturunannya. “Kadar glukosa darah yang lebih tinggi menyebabkan risiko diabetes yang lebih tinggi, terutama diabetes tipe 2," ucapnya.

TEMPO.CO

Komentar