aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Penyakit Saraf Memiliki Stadium Layaknya Kanker, Mitos Atau Fakta?

Tuesday, 2 April 2019 04:30:31 WIB | Wayan Diananto
Penyakit Saraf Memiliki Stadium Layaknya Kanker, Mitos Atau Fakta?
Neuropati level ringan ditandai dengan kesemutan. (Foto: Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Zaman sekarang, orang lebih memilih ketinggalan dompet daripada ketinggalan ponsel. Setiap hari, generasi milenial bisa berjam-jam menatap layar ponsel. Hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia 2017 menyebutkan, 50 persen pengguna aktif internet menggunakan ponsel pintar. Pada generasi milenial berusia 20 sampai 35 tahun yang 94,4 persen telah terkoneksi internet, sebanyak 98,2 persen di antaranya menggunakan ponsel pintar rata-rata 7 jam sehari.

"Bahkan 79 persen di antaranya langsung memeriksa ponsel semenit setelah bangun tidur. Berkaca pada data ini, selain memberikan kemudahan, perkembangan teknologi menuntut screentime lebih lama dan dapat berisiko terhadap kesehatan," ungkap Sekretaris Jenderal Asosiasi Internet of Things Indonesia, Fita Maulani. Senada dengan Fita, Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi Perdossi Pusat, Dr. Manfaluthy Hakim, Sp.S(K), mengingatkan bahaya mencandu gawai.

Menurut Manfaluthy, posisi tangan orang dalam memegang gawai relatif sama. Tulang dan saraf tangan yang berada di posisi serupa selama bermenit-menit berpotensi menjadi kaku, mengalami kram atau kesemutan. Jika dibiarkan dalam jangka panjang bisa memicu kerusakan saraf tepi mengingat, kesemutan adalah gangguan saraf (neuropati) di level ringan. Tubuh manusia memiliki 4 jenis saraf: motorik, sensorik, otonom, serta campuran.

Motorik merupakan saraf terluar sementara otonom lapisan terdalam. "Neuropati ada 3 jenis. Pertama dini, yakni gangguan fungsi saraf yang tidak memicu kerusakan struktur. Kedua menengah, yakni gangguan fungsi disertai kerusakan selubung saraf. Ketiga berat, berupa gangguan fungsi dan disabilitas yang disertai kerusakan sebagian besar struktur saraf khususnya saraf otonom," beri tahu Manfaluthy kepada tabloidbintang.com di Jakarta, belum lama ini.

Di katakan berat, jika kerusakan struktur saraf lebih dari 50 persen. Jika ini terjadi, maka saraf tidak dapat pulih 100 persen. Awam kemudian mempersamakan neuropati level dini dengan kanker stadium 1 sementara neuropati level berat layaknya kanker stadium 4.

"Tidak. Analoginya tidak seperti itu. Gangguan saraf otonom dan kanker (stadium lanjut) dua hal yang berbeda. Gangguan saraf otonom tidak langsung menyebabkan kegagalan sistem dan kematian. Peluang sembuh saya belum tahu karena belum ada riset terbaru. Namun neuropati otonom membuat Anda mengalami gangguan yang tak bisa dipandang remeh," sanggahnya.

Suasana gelar wicara tentang neuropati di Jakarta, belum lama ini. (Foto: Wayan Diananto)
Suasana gelar wicara tentang neuropati di Jakarta, belum lama ini. (Foto: Wayan Diananto)

Seperti diketahui, saraf otonom mengontrol fungsi yang tidak disadari, seperti tekanan darah, denyut jantung, proses pencernaan, dan sistem kemih. Gangguan pada saraf ini membuat Anda mengompol sementara pada laki-laki, bisa memicu disfungsi ereksi.

Berbagai studi terus dikembangkan untuk menyelidiki neuropati. Salah satunya, Studi Klinis 2018 NENOIN (Penelitian Non-intervensi dengan vitamin neurotropik) yang membuktikan konsumsi kombinasi vitamin neurotropik yang terdiri B1, B6, dan B12 secara rutin dan berkala dapat mengurangi gejala neuropati seperti kebas, kesemutan, atau rasa terbakar hingga 62,9 persen dalam 3 bulan periode konsumsi. Vitamin neurotropik yang digunakan dalam studi ini Neurobion Forte.

"Masyarakat dapat mengonsumsi vitamin ini apabila mengalami gejala neuropati ringan sampai berat. Selanjutnya, untuk menjaga dan mencegah gejala neuropati muncul kembali, dapat dilanjutkan dengan Neurobion putih. Kita bisa mewaspadai risiko neuropati dengan melakukan deteksi dini dan konsumsi rutin vitamin neurotropik," urai Consumer Health Associate Director of Marketing, PT P&G PHCI Indonesia, Anie Rachmayani.

Komentar