aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Serangan Jantung Koroner, Haruskah Diintervensi?

Thursday, 27 December 2018 16:45:51 WIB | Wayan Diananto
Serangan Jantung Koroner, Haruskah Diintervensi?
serangan jantung (tinypic)

TABLOIDBINTANG.COM - Penyakit arteri koroner alias jantung koroner masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Serangan jantung koroner dipicu oleh sumbatan pada arteri koroner.

Ada banyak pembuluh darah di jantung, yang paling utama adalah koroner. Fungsinya, mengalirkan asupan nutrisi serta darah ke otot-otot jantung. Saat ia tersumbat, aliran darah ke otot jantung pun tersendat. Dampaknya fatal,  bisa gagal jantung hingga pasien meninggal dunia.

Data dari Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan RI tahun ini menyebut telah terjadi pergeseran usia penderita jantung koroner. Dulu, jantung koroner disebut penyakitnya orang tua.

Kini, remaja usia 17 tahun pun bisa terkena serangan jantung. Dulu, laki-laki disebut lebih berisiko terkena serangan jantung ketimbang perempuan. Saat ini, persentase laki-laki dan perempuan yang mengidap jantung koroner nyaris berimbang.

Dr. Dasaad Mulijono, MBBS(Hons), FIHA, FIMSANZ, FRACGP, FRACP, PhD dari Rumah Sakit Umum Bethsaida Gading Serpong Tangerang menjelaskan, serangan jantung datang bukan tanpa sebab.

Ada sejumlah faktor pemicu tradisional di antaranya, diabetes yang berujung pada kencing manis, hipertensi, merokok, stres, dan tingginya kadar kolesterol dalam darah. Dalam kasus tertentu, pasien tampak bugar dan memiliki riwayat gaya hidup sehat. 

“Jika gaya hidupnya sehat, bisa jadi ia mendapat serangan jantung karena faktor genetik. Karenanya saya sarankan pada usia 35 tahun mulai rutin menjalani pemeriksaan kolesterol, tensi, dan kadar gula. Berdasarkan pengalaman saya, pasien yang rajin menjalani pemeriksaan medis jarang kecolongan. Gejala awal penyakit jantung bisa terdeteksi lebih dini. Peluang sembuh lebih besar,” urai Dasaad kepada Bintang, di Tangerang, pekan lalu.

Serangan jantung identik dengan tindakan intervensi. Padahal, tidak semua serangan jantung harus ditangani dengan intervensi berupa pemasangan ring di pembuluh darah.

Penyakit ini dimulai dengan gejala berupa nyeri di dada sebelah kiri yang menjalar ke lengan dan rahang. Nyeri itu disertai sensasi seperti ditimpa benda berat atau seperti dicekik dan ingin muntah. Setelah itu keluar keringat dingin dengan frekuensi makin sering. 

Saat hasil pemeriksaan mengarah ke dugaan serangan jantung, pasien direkomendasikan menjalani kateterisasi untuk melacak lokasi sumbatan.

“Lalu tim dokter akan mengecek adakah sumbatan lain yang baru setengah jadi, artinya menyumbat aliran darah 60-70 persen. Kalau ada, harus segera dibetulkan agar tidak memicu serangan jilid kedua dan seterusnya. Kalau sumbatan di bawah 50 persen, tidak harus diintervensi namun gaya hidup pasien mesti diubah,” sambung dia.

(wyn / gur)
 

Komentar