aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Rajin Makan Sayur Tak Menjamin Tubuh Benar - Benar Sehat, Apa yang Salah?

Thursday, 8 November 2018 15:15:00 WIB | Wida Kriswanti
Rajin Makan Sayur Tak Menjamin Tubuh Benar - Benar Sehat, Apa yang Salah?
Rajin Makan Sayur Tak Menjamin Tubuh Sehat, Apa yang Salah? (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Menyadari gaya hidup sehat, Anda kemudian menjalankan pola makan yang lebih baik, salah satunya dengan menambah porsi sayur. Bahkan tidak lagi sayuran yang dimasak, melainkan dikonsumsi mentah atau raw. Akan tetapi, tidak terasa perubahan yang signifikan dengan kesehatan tubuh Anda. 

Apa yang salah? 

Rachel Olsen, spesialis nutrisi dari Youvit menjelaskan, bahwa lalapan, atau makanan khas Indonesia seperti karedok, asinan, atau rujak, cukup sehat karena tidak dimasak dan didominasi dengan sayur - sayuran dan buah - buahan. Mengonsumsinya setiap hari tentu baik adanya. Apalagi pada setiap jenis sayuran dan buah yang ada dalam makanan tersebut, memiliki keunggulan dalam hal kandungan vitamin dan mineralnya. Sebagai contoh, tomat mengandung vitamin C, B3, dan potasium. Daun selada juga mengandung vitamin B7, B9, dan potasium.

Akan tetapi, walau mengonsumsinya setiap hari belum tentu dapat membuat tubuh kita benar - benar sehat. Alasan pertama, karena setiap tubuh manusia memiliki kemampuan yang berbeda - beda dalam menyerap vitamin dan mineral dari makanan harian. Alasan kedua, bahan makanan mentah belum tentu mengandung porsi vitamin dan mineral yang lengkap. 

(Depositphotos)
(Depositphotos)

"Sayur atau buah paling baik dikonsumsi setelah dipetik langsung. Kandungan vitamin dan mineralnya masih tinggi," ungkap Rachel Olsen, melalui surel. "Tetapi kalau sudah terkena sinar matahari atau disimpan terlalu lama, kandungannya secara alami bisa berkurang," lanjutnya. 

Karena itulah, walau rajin makan sayur dan buah segar, setiap individu masih membutuhkan tambahan asupan berupa multivitamin yang fungsinya melengkapi yang kurang tadi. "Multivitamin dengan takaran vitamin dan mineral yang seimbang pilihan terbaik, karena Anda tak perlu khawatir dengan terjadinya penumpukan kadar vitamin yang ke depannya tidak baik untuk tubuh," pungkas Rachel Olsen. 

(wida / wida)

Komentar