aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Antibiotik Yang Diresepkan Dokter Harus Dihabiskan. Mitos Atau Fakta?

Saturday, 29 September 2018 09:30:31 WIB | Wayan Diananto
Antibiotik Yang Diresepkan Dokter Harus Dihabiskan. Mitos Atau Fakta?
Antibiotik yang diresepkan dokter harus dihabiskan, mitos atau fakta? (Foto: Dok. tabloidbintang.com)

TABLOIDBINTANG.COM - Seringkali dokter memberikan antibiotik untuk memulihkan kesehatan tubuh kita. Antibiotik adalah zat kimia yang dihasilkan berbagai mikroorganisme, bakteri tertentu, fungi, dan aktinomiset yang dalam kadar rendah mempunyai kemampuan menghambat pertumbuhan atau menghancurkan bakteri maupun berbagai mikroorganisme lain. Ada banyak asumsi yang beredar di masyarakat seputar antibiotik. Salah satunya, antibiotik yang diresepkan dokter harus dihabiskan.

Hal tersebut terungkap dalam dikusi kesehatan bertema "Mengenal Bakteri dan Risikonya Terhadap Kesehatan" persembahan Kalbe Farma di Jakarta Selatan, pekan ini. Salah satu narasumber yang hadir, dr. Harry Parathon, SpOG(K) dari Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Harry menerangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, salah satu strategi menurunkan AMR atau resistensi antimikroba adalah menghabiskan antibiotik yang diresepkan oleh dokter. Namun kebijakan dokter sangat dibutuhkan dalam menyikapi kondisi kesehatan pasien.

"Sekarang begini, badan pasien panas. Lalu dokter meresepkan antibiotik. Keesokan harinya, tubuh pasien memperlihatkan bercak kemerah-merahan, itu campak. Campak penyebabnya virus. Apakah antibiotik bisa membunuh virus? Tidak. Lalu untuk apa menghabiskan antibiotik? Ia tidak butuh antibiotik," ujar Harry kepada tabloidbintang.com.

Harry menambahkan, "Saya dan istri kemarin terkena demam berdarah. Trombosit saya turun bahkan, leukosit saya anjlok ke level 1.200. Saya bilang kepada dokter saya tidak mau antibiotik. Pengetahuan saya mengatakan pasien demam berdarah memang tidak perlu antibiotik. Kalau badan panas langsung ditembak dengan antibiotik bisa berbahaya karena pasien bisa saja terkena radang paru-paru, misalnya. Kuncinya mengenali dulu penyebab naiknya suhu tubuh pasien."

Komentar