aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Ketika Pasangan Divonis Punya Masalah Kesehatan Reproduksi (2 - habis)

Monday, 17 September 2018 02:00:25 WIB | Rizki Adis Abeba
Ketika Pasangan Divonis Punya Masalah Kesehatan Reproduksi (2 - habis)
Ketika Pasangan Divonis Punya Masalah Kesehatan Reproduksi (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Salah satu tujuan pernikahan, melanjutkan keturunan. Saat dokter menyatakan pasangan Anda mengalami masalah kesehatan reproduksi sehingga sulit memperoleh keturunan, psikis dan emosinya bisa jadi terguncang.

Jika tidak disikapi dengan bijak, keharmonisan rumah tangga bisa terancam.

Jadilah tim

Omong-omong soal keturunan, Anda harus menekankan bahwa memiliki keturunan adalah hasil kerja tim. Saat tim Anda belum berhasil mendapat apa yang diinginkan, yang harus diperbaiki adalah tim, bukan perorangan. “Diskusikan masalah ini dengan menggunakan kata kita. Bukan kamu atau saya sehingga Anda akan merasa sebagai sebuah tim,” Witkin menjelaskan. Hal ini akan membuat Anda dan pasangan sadar bahwa masalah ini harus dihadapi bersama.

Jangan merahasiakan sesuatu

Menyembunyikan sesuatu dari pasangan hanya akan menambah masalah rumah tangga. “Menyimpan rahasia dan membuat asumsi sendiri akan menyabotase kepercayaan, bahkan dalam hubungan yang sangat kuat sekalipun,” Copperman mewanti-wanti. Bicaralah secara terbuka dan jujur tentang apa yang terjadi pada diri Anda. “Makin cepat memulai diskusi dengan pasangan, akan makin baik perasaan Anda karena Anda tidak lagi menyembunyikan rahasia tentang masalah apapun termasuk kesuburan darinya,” beri tahu terapis keluarga dan pernikahan berlisensi asal New York, AS, Heidi McBain, MA. 

Ketika Pasangan Divonis Punya Masalah Kesehatan Reproduksi (Depositphotos)
Ketika Pasangan Divonis Punya Masalah Kesehatan Reproduksi (Depositphotos)

Carilah bantuan

Setelah membicarakan masalah ini bersama pasangan, jangan segan mencari bantuan ke pihak ketiga. “Saya merekomendasikan agar pasangan tidak saling menghakimi. Selain itu, carilah bantuan dari profseional sembari tetap menjalin dialog terbuka satu sama lain,” nasihat Copperman. Anda bisa mencari bantuan ke dokter kandungan, menjalani konseling pernikahan, atau meminta dukungan dari keluarga maupun kerabat. “Minta bantuan dari profesional bukan berarti Anda dan pasangan gagal menemukan solusi. Ini berarti Anda berhasil menjadi tim yang jujur dan proaktif dalam mencapai tujuan bersama,” tutup McBain. 

(riz / gur)

Komentar