aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Saat Dada Nyeri dan Lambung Serasa Terbakar, Lakukan Pemeriksaan Endoskopi

Monday, 17 September 2018 11:30:06 WIB | Wayan Diananto
Saat Dada Nyeri dan Lambung Serasa Terbakar, Lakukan Pemeriksaan Endoskopi
Saat Dada Nyeri dan Lambung Serasa Terbakar, Lakukan Pemeriksaan Endoskopi (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Lambung menyerupai balon. Ketika banyak gas dan asap masuk, ia akan mengembung. Gas dan asap rokok yang terhirup memicu pembengkakan lambung. Saat lambung mengembung, risiko terkena penyakit Gerd (Gastroesophageal Reflux Disease) meninggi.

Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, dari Yayasan Gastroenterologi Indonesia menjabarkan, “Saat Gerd menyerang, pasien merasa lambungnya seperti terbakar, mulut terasa pahit, dan nyeri hebat di dada".

Ketika asam lambung naik ke kerongkongan, ia memicu luka, penyempitan, dan perubahan struktur di kerongkongan. Jika dibiarkan, ia melonjak ke pita suara, paru-paru, gigi, hidung, bahkan telinga.

Saat dada nyeri, lambung serasa terbakar, dan mulut terasa pahit, Ari merekomendasikan Anda menjalani pemeriksaan endoskopi. Tujuannya, untuk mengecek ada tidaknya peradangan di dinding lambung, penyempitan, baret, hingga mendeteksi sel kanker. 

Luka di lambung yang dibiarkan menahun bisa memicu lahirnya sel-sel kanker apalagi jika pasien punya faktor pemicu seperti merokok dan pola makan tidak teratur.

“Jika hasil pemeriksaan memperlihatkan baret di esofagus, Anda harus siap dengan kemungkinan terburuk: fase prakanker. Anda perlu penanganan komprehensif termasuk pemeriksaan dengan PH-metri yang dimonitor selama 24 jam. Setelah pengobatan tuntas, jalani pemeriksaan endoskopi setiap tahun,” urai dia.

Meski terdengar mengerikan, Gerd bisa disembuhkan. Masalahnya pasien acapkali menggampangkan metode pengobatan. Beberapa pasien setelah rurin mengonsumsi obat selama dua minggu lalu merasakan kondisi tubuhnya membaik, berhenti minum obat. 

“Gerd membutuhkan pengobatan jangka panjang. Biasanya dua bulan. Ini sama seperti TBC. Ketika batuk sirna dan berat badan mulai bertambah, pasien merasa tidak perlu minum obat lagi. Padahal, konsistensi kunci mencapai kesembuhan di level paripurna,” Wisnu mengingatkan. 

(wyn / gur)

Komentar