aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Bayi yang Lahir Prematur Berpotensi Punya Perawakan Pendek, Ini Penjelasannya

Friday, 20 July 2018 05:45:46 WIB | Wayan Diananto
Bayi yang Lahir Prematur Berpotensi Punya Perawakan Pendek, Ini Penjelasannya
Bayi yang lahir prematur berpotensi punya perawakan pendek. (Foto: Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Stunting adalah masalah gizi terbesar di Indonesia. Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik FKUI/RSCM Jakarta, Dr. dr. Damayanti R. Sjarif, Sp.A(K) membeberkan data terbaru bahwa angka stunting melampaui 20 persen seluruh provinsi di Tanah Air, termasuk DKI Jakarta. Akibatnya, Indonesia menjadi negara dengan kasus stunting terbesar ke-5 sejagat.

"Stunting adalah perawakan pendek yang disebabkan karena asupan nutrisi yang kurang adekuat atau kondisi kesehatan yang kurang baik," Damayanti memaparkan seraya menambahkan, "Dengan kata lain, stunting persoalan gagal tumbuh. Anak tidak tumbuh optimal seperti seharusnya karena kekurangan gizi. Stunting jadi masalah karena akan meningkatkan angka kematian. Anak stunting empat kali lebih mudah meninggal dan IQ-nya turun 11."

Stunting, kata Damayanti, bisa berawal dari bayi yang lahir prematur atau berat badan lahir rendah (BBLR). Dua kondisi ini menyebabkan bayi tidak punya "modal" yang cukup untuk hidup sehat. Tapi faktor pemicu stunting terbesar adalah kurangnya asupan nutrisi yang adekuat setelah lahir. Idealnya, petumbuhan anak berjalan linear. Pertambahan berat badan diikuti peningkatan tinggi badan. Pertumbuhan paling cepat terjadi dalam setahun pertama.

"Setelah itu mulai turun, lalu naik lagi saat anak puber usia 10 tahun pada anak perempuan dan 12 tahun pada anak laki-laki. Bawa ke dokter bila anak Anda pendek. Anda harus mencari tahu apakah buah hati Anda normal atau patologis. Hanya dokter yang bisa menentukan itu," ia menukas. Damayanti mengingatkan, stunting selalu diawali dengan berat badan yang kurang. Ingat bahwa saat anak kekurangan asupan energi, yang pertama kali dikorbankan adalah otak.

"Maka bisa dibayangkan apa yang terjadi seandainya asupan gizi anak jelek selama usia 1 tahun pertama. Penelitian menunjukkan, bayi yang pernah mengalami gizi buruk di usia kurang dari satu tahun, maka pada usia 40 tahun, 25 persen dari mereka akan memiliki IQ di bawah 70 tahun dan 40 persen lainnya memiliki IQ kurang dari 90," pungkasnya.

Komentar