aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Karina Nadila Bagi Kisah 17 Tahun Penantian Pada Finalis Puteri Indonesia 2018

Thursday, 1 March 2018 05:30:23 WIB | Nanda Indri Hadiyanti
Karina Nadila Bagi Kisah 17 Tahun Penantian Pada Finalis Puteri Indonesia 2018
Karina Nadila, runner-up 2 Puteri Indonesia 2017. (Seno / tabloidbintang.com)

TABLOIDBINTANG.COM - Karina Nadila, runner-up 2 Puteri Indonesia 2017 menceritakan penantian panjangnya selama 17 tahun untuk menjadi bagian keluarga besar Yayasan Puteri Indonesia. Dia menceritakan hal tersebut untuk menyemangati ke-39 finalis yang akan berkompetisi dalam ajang Puteri Indonesia 2018. 

"Saya dikenalkan ajang kecantikan oleh ibu saya sejak usia delapan tahun. Setelah 17 tahun saya persiapkan diri, dengan tinggi yang pas-pasan yang berpikir pastinya penilaian nggak hanya dari fisik, hingga akhirnya memberanikan diri ikut masuk ke pemilihan Puteri Indonesia 2017 di usia 24," ujarnya saat ditemui di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta Pusat, Rabu (28/2). 

Karina Nadila. (Seno / tabloidbintang.com)
Karina Nadila. (Seno / tabloidbintang.com)

Dia mengatakan tentunya tak mudah untuk menjadi bagian dari keluarga besar Puteri Indonesia. Setelah terpilih mewakili provinsi masing-masing, finalis masih harus melewati masa karantina yang melelahkan. Meski melelahkan, kata Karina Nadila, semua pengalaman akan sangat berarti untuk bekal seumur hidup. 

"It's going to be tiring and exhausting tapi percayalah momen yang kalian alami nggak akan terlupakan seumur hidup kalian, dan dengan menjadi keluarga Puteri Indonesia, kalian dapat 34 tempat untuk nginep gratis di Indonesia," tutur Karina Nadila sambil bergurau. 

Finalis Puteri Indonesia 2018. (Nanda / tabloidbintang.com)
Finalis Puteri Indonesia 2018. (Nanda / tabloidbintang.com)

Dia juga menyampaikan bahwa siapa pun yang menang, adalah sosok yang tetap peduli dengan lingkungan selama masa karantina. Karena walaupun Puteri Indonesia adalah sebuah kompetisi, tapi semua finalis adalah keluarga. 

"Saya selalu percaya yang jadi pemenang pasti yang mereka selama di karantina tetap peduli, walau ini kompetisi tapi kita semua adalah saudara," tutup wanita kelahiran Jakarta, 21 Agustus 1992 tersebut. 

(nda / bin)

Komentar