aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Perlu Cerewet dan Hati-hati Saat Mengajukan Kredit Pemilikan Rumah, Ini Alasannya!

Thursday, 3 November 2016 22:30:39 WIB | Bintang Home
Perlu Cerewet dan Hati-hati Saat Mengajukan Kredit Pemilikan Rumah, Ini Alasannya!
Ilustrasi pembangunan rumah KPR (Markuat/tabloidbintang.com)

TABLOIDBINTANG.COM - Kredit Pemilikan Rumah atau disingkat KPR hingga kini masih menjadi fasilitas utama yang dimanfaatkan masyarakat dalam hal pembelian rumah. Skema pembiayaan yang disalurkan bank untuk KPR sesuai ketetapan BI saat ini adalah 85% dari harga rumah.

Sejatinya KPR disediakan oleh perbankan, walaupun sudah ada beberapa perusahaan pembiayaan yang menyalurkan dana dari lembaga sekunder untuk pembiayaan perumahan (housing financing).

KPR sendiri diminati konsumen karena menawarkan sejumlah keuntungan, diantaranya biaya awal yang tidak besar. Calon debitur hanya diminta melengkapi dokumen termasuk sudah melunasi uang muka rumah kepada pengembang.

Di samping itu, keuntungan lain dari KPR adalah jangka waktu cicilan yang bisa disesuaikan dengan kemampuan. Batas tenor cicilan paling lama adalah 25 tahun.

Berkaitan dengan lamanya waktu, nasabah tentu tidak akan tahu musibah apa saja yang bakal menimpa mereka. Entah itu meninggal dunia, mengalami cacat tetap, tersandung PHK, rumah kebakaran, maupun kejadian yang bersifat alami seperti bencana alam.

Demi mengatasi solusi ketika hal yang tidak diinginkan itu terjadi, maka nasabah dituntut untuk lebih teliti dan memahami bentuk perlindungan yang bank sertakan dalam asuransi

“Salah satu bank syariah memberikan batas waktu 14 hari bagi nasabahnya agar mengerti betul apa saja yang terangkum dalam lembar akad kredit. Dan semestinya semua bank juga menerapkan pola demikian,” kata CEO Amana Consulting sekaligus Sharia Banking Specialist, Ahmad Ifham Sholihin.

Tujuannya, menurut Ahmad, agar tidak ada kesalahpahaman di kemudian hari apabila ada satu kasus yang melanda nasabah.

“Dalam akad kredit tercatat jelas pasal per pasal yang ditentukan bank, termasuk polis asuransi apa saja yang bisa dinikmati nasabah. Nah, sebagai nasabah yang cerdas, baca dan pahami pasal-pasal tersebut serta tanyakan apabila ada yang kurang dimengerti,” jelasnya.

“Bawel dalam urusan seperti ini, wajib hukumnya!” ia menegaskan.

Jangan tandatangan sebelum yakin

Rumah merupakan aset berharga tinggi. Jika rumah terbakar dan kebetulan tidak diasuransikan, belum tentu pemilik dapat langsung memperbaiki rumah tersebut. Mengingat perbaikan/renovasi rumah membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Karena itu, saat sesi wawancara KPR atau sebelum menandatangani akad kredit, tanyakan kepada pihak bank apakah produk KPR yang hendak diambil telah dibekali program asuransi kebakaran.

Beberapa bank umumnya tidak membebankan premi asuransi kebakaran kepada debitur selama tenor kredit berlangsung, melainkan dibayar di awal bersamaan dengan biaya KPR dan provisi. Hal ini juga berlaku pada asuransi jiwa.

“Yang pasti nasabah harus tanya, asuransi yang disertakan dalam perjanjian KPR mencakup apa saja. Apakah melindungi nasabah jika ia meninggal, cacat tetap atau PHK. Jika iya, nanti prosedur klaimnya seperti apa. Detail lah sebelum memutuskan sesuatu,” papar Ahmad.

“Ada nasabah KPR meninggal dunia lalu ahli warisnya komplain karena cicilannya tidak lantas hangus/lunas. Ternyata setelah dicek kembali, kesalahan ada pada nasabah yang tidak melengkapi dokumen untuk keperluan asuransi jiwa,” tukasnya.

Kebijakan masing-masing bank dalam hal perlindungan jiwa dan rumah yang dicicil tentu berbeda. Begitu pula dengan persyaratan dokumen yang diperlukan.

“Kalau perlu, minta polis asuransi KPR nya sebelum melakukan akad kredit. Dan lagi-lagi Saya ingatkan, baca dengan seksama dan tanya apa saja ketentuan sahihnya, berikut juga berkas-berkas yang bisa memvalidasi klaim di masa datang,” ia mengakhiri.

Pada dasarnya, bank yang telah menyertakan asuransi jiwa kedalam produk KPR-nya akan secara otomatis melunasi sisa pinjaman yang ada. Dengan syarat, tidak ada tunggakan cicilan sebelum nasabah meninggal. Kemudian selaku ahli waris dapat langsung mendatangi bank untuk mengambil sertifikat rumah (SHM). Jangan lupa, sertakan bukti yang menyatakan bahwa ia merupakan ahli waris yang sah.

BINTANGHOME.COM

Komentar