aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Mahasiswa Asal Indonesia Desain Busana Daur Ulang Terinspirasi Wayang Kulit

Thursday, 14 March 2019 19:18:38 WIB | Romauli Gultom
Mahasiswa Asal Indonesia Desain Busana Daur Ulang Terinspirasi Wayang Kulit
Karya Agata Maureen.

TABLOIDBINTANG.COM - Agata Maureen (21) merupakan mahasiswa MDIS asal Indonesia yang mendesain busana dari inspirasi wayang kulit yang dibuat dari bahan daur ulang. 

Ia tampil dalam sebuah event Fashion Show Avant-Garde yang digelar dalam rangka perayaan 70 tahun Commonwealth yakni The Royal Commonwealth Society yang berkolaborasi dengan mahasiswa MDIS School of Fashion and Design.

Fashion show ini menampilkan hasil karya design mahasiwa yang menggunakan bahan plastik daur ulang (recycled plastics) sebagai suatu busana yang fashionable dan layak pakai.

"Untuk menonjolkan nuansa silhouette wayang kulit pada design saya, saya menggunakan teknik lipat (pleating technique) untuk detailnya agar dapat menciptakan garis curcy Antelope Canyon. Silhouette dan details ini adalah untuk memberikan kesan feminim pada design saya," ujar Agata Maureen dalam keterangan tertulisnya, belum lama ini.

Selain Agata dari Indonesia, ada juga Khvan Mariya mahasiswa asal campuran Kazakhstan dan Korea Selatan. Ia mengaku terinspirasi oleh seni arsitek, namun dari kebudayaan lain, yaitu Changdeokgung yang merupakan salah satu situs warisan UNESCO Korea. 

Kemudian, Mahasiswi asal Myanmar, Nan Lao Tip Oo yang sangat tertarik dengan artis pioner Singapura, yaitu Chen Wen Hsi.  Sementara mahasiswa asal Tiongkok, Charles Lyu mendapat inspirasinya dari tempat yang tidak terduga, yaitu museum mobil di Jepang.

Sebanyak 12 mahasiswa merespon tantangan ini, dimana banyak karya mereka yang dihasilkan berdasarkan inspirasi dari nuansa kebudayaan dan lingkungan hidup. Charis Tan, mahasiswa asal Singapura misalnya terinspirasi oleh Arabesque (seni ornamen Islami) dan arsitektur masjid. 

“Pola geometrikal yang rumit dan detail memiliki makna yang mendalam dan inilah yang menarik minat saya,” ungkap Tan.

Mahasiswa diminta untuk memperhatikan nuansa kebudayaan dari design yang hendak dibuat. Mereka diminta untuk mendesign fashion yang santun dan relevan dengan perkembangan zaman saat ini, dan juga memikirkan aspek kalayakan pakai serta kesinambungan dari hasil design tersebut.

”Para mahasiswa membuktikan bahwa fashion yang sederhana dapat terlihat sangat stylish. Kami menyukai kombinasi design mereka, mulai dari yang paling mencolok hingga yang lebih lembut dan klasik," ungkap Ms Alda Ntezilizaza, istri Komisaris Tinggi Republik Rwanda.

Melalui event ini, Mr. Scott berharap kolaborasi ini untuk melindungi lingkungan hidup dan menciptakan kesinambungan. Kerjasama ini untuk menciptakan kesinambungan dan mendorong generasi muda untuk berpikir kreatif mengenai isu ini.

Komentar