aura('#content-light').lightGallery({ selector: '.item-img', download: false });

Waspada Vaksin Palsu, Ini Kiat Menghindarinya

Saturday, 16 July 2016 21:00:47 WIB | Sarah Christiani
Waspada Vaksin Palsu, Ini Kiat Menghindarinya
(dok. Depositphotos)

TABLOIDBINTANG.COM - Kasus vaksin palsu menggelisahkan orang tua. Tidak sedikit yang khawatir akan kesehatan anak mereka. Apakah anak sudah terlindungi dengan baik atau malah menjadi salah satu korban vaksin palsu?

Vaksin, di dalam kitab referensi resmi sediaan farmasi (Farmakope Indonesia—edisi ke-5 [FI V], Desember 2015) didefinisikan sebagai sediaan yang mengandung zat antigenik yang menimbulkan kekebalan aktif dan khas pada manusia. Vaksin dibuat dari bakteri, riketsia atau virus yang telah dilemahkan atau dinonaktifkan, dan dapat berupa suspensi organisme hidup atau inaktif, fraksi-fraksinya, atau toksoidnya.

Di dalam kitab itu dicantumkan ketentuan terkait vaksin, yang menjadi panduan resmi dalam pembuatannya. Juga disebutkan, dalam pembuatan vaksin dapat ditambahkan pengawet antimikroba yang sesuai, selain antibiotik pada vaksin steril dan vaksin inaktif. 

Bila dipalsukan, vaksin tidak lagi memiliki kegunaan untuk menimbulkan kekebalan dari penyakit tertentu.

“Vaksin palsu dibuat dengan cara menyuntikkan cairan infus dicampur dengan vaksin tetanus. Hasilnya vaksin wajib palsu untuk hepatitis, BCG, dan campak. Harga vaksin palsu dijual sekitar 200 ribu-400 ribu rupiah, lebih murah dibanding vaksin asli,” jelas Prof. Dr. Amarila Malik, MSi., Apt, dosen pengajar mata kuliah imunologi dan virologi, Guru Besar Mikrobiologi dan Bioteknologi Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Indonesia.

“Sepak terjang pembuat vaksin palsu tidak tercium otoritas yang berwenang selama 13 tahun karena dampak vaksin yang tidak nampak,” tambahnya. 

Selain kerugian pada biaya, kekhawatiran utamanya terletak pada kondisi imunitas anak yang ternyata tidak terbentuk.

“Vaksin diberikan dalam rangka menimbulkan respons imun bagi yang memperolehnya. Respons imun ini akan berfungsi sebagai tameng dalam menghadapi penyakit infeksi. Vaksin palsu tidak mengandung zat antigen untuk menimbulkan respons imun,” ujar Amarila. 

Pemberian vaksin palsu pada balita bahkan bisa mengakibatkan efek samping tertentu.

“Sementara ini kandungan vaksin palsu dilaporkan adalah berupa cairan infus, antibiotik, dan vaksin tetanus—diinformasikan konsentrasinya rendah. Namun batasan dosis suatu antibiotik, apalagi untuk diberikan kepada balita, tetap perlu diwaspadai. Pengaduan mengenai efek samping vaksin palsu yang mengandung antibiotik terhadap balita belum ditemukan, bisa jadi karena masyarakat tadinya tidak tahu mengenai vaksin palsu,” tambahnya.

Agar anak Anda tidak menjadi korban pemalsuan vaksin, berikut Amarila menyampaikan 4 kiatnya. 

1. Cermatlah sebelum memberikan vaksin kepada anak

Secara kasat mata vaksin palsu sulit dibedakan dengan yang asli—perlu pemeriksaan laboratorium. Namun pemerintah sudah mengeluarkan informasi resmi mengenai ciri-ciri vaksin palsu yaitu berdasarkan bentuk kemasan, bagian tutup botol, plus nomor batch dan barcode.

2. Lakukan pemberian vaksin di tempat yang tepat

Harap melakukan imunisasi dasar maupun imunisasi lainnya di fasilitas pelayanan kesehatan yang resmi melaksanakan program imunisasi dasar lengkap pemerintah dan dilakukan oleh profesi kesehatan yang berhak seperti dokter anak. Jangan terpengaruh pihak-pihak yang menawarkan vaksin atau imunisasi dengan harga lebih murah. Pemerintah sudah mengatur fasilitas pelayanan kesehatan resmi untuk program imunisasi dasar. Para dokter dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pun sudah menyatakan jaminan keaslian vaksin yang mereka berikan kepada anak. 

3. Jadilah orang tua yang proaktif

Masyarakat disarankan proaktif mencari informasi dari sumber-sumber resmi, seperti situs-situs resmi instansi kesehatan pemerintah seperti Badan POM (www.pom.go.id) dan Kementrian Kesehatan (www.depkes.go.id) maupun akun Twitter mereka yang mudah diakses menggunakan gawai. 

4. Vaksin ulang 

Bila Anda kurang yakin akan kesehatan anak Anda setelah divaksin, periksakan kembali anak Anda. Segera hubungi fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah untuk imunisasi ulang. 

(sarah/gur)

Komentar