Memahami Penyebab Pekerja Milenial Bergonta-ganti Pekerjaan

Sunday, 17 December 2017 01:00:24 WIB | Rizki Adis Abeba
Memahami Penyebab Pekerja Milenial Bergonta-ganti Pekerjaan (Depositphotos)

AURA.CO.ID - Generasi milenial enggan berlama-lama di perusahaan yang tidak menjanjikan masa depan cerah, tidak memberi asuransi kesehatan memadai serta stabilitas karier untuk jangka waktu panjang.

Tidak seperti pendahulu mereka yang takut kehilangan pekerjaan, generasi milenial tidak takut mengambil risiko menganggur demi pekerjaan lebih baik.

Sejumlah 77 persen pekerja milenial dalam survei yang sama bahkan tidak menolak pekerjaan bergaji lebih rendah, asalkan jaminannya masa depan menjanjikan, misalnya status kepegawaian yang jelas, bukan berdasar sistem kontrak atau outsourcing.

“Generasi milenial menginginkan stabilitas. Ya, itu mungkin mengejutkan, tetapi benar adanya,” kata James Goodnow, penulis buku Motivating Millennials yang juga pengacara dan kolumnis.

“Banyak eksekutif dari generasi baby boomers (kelahiran 1946-1964) berpikir generasi milenial hanya mencari batu loncatan demi mendapatkan uang untuk mendaki Gunung Kilimanjaro atau membeli kartu tahunan skydiving tanpa batas,” imbuh Goodnow.

Stereotip negatif mengenai pekerja milenial yang diyakini para petinggi perusahaan harus diubah. Karena dalam beberapa tahun ke depan, dunia kerja akan didominasi generasi milenial. 

“Stereotip ini membunuh karakter generasi milenial yang sedang mencari tempat mereka bisa tumbuh dan berkembang sebagai profesional. Mentalitas 'ah, mereka pasti akan cepat pergi' membuat pimpinan perusahaan hanya ingin memenuhi kebutuhan mereka sendiri dan tidak berinvestasi pada pekerja muda, sehingga akhirnya mereka (pekerja milenial) memilih pergi,” urai Goodnow. 

Survei Qualtrics dan Accel menyimpulkan, apa yang dialami, dilihat, dan dirasakan pekerja dalam 90 hari pertama kunci yang menentukan, apakah mereka akan bertahan lama atau tidak di satu perusahaan. Perusahaan harus berusaha memberi alasan berharga bagi pekerja untuk menetap sejak awal mereka bergabung. 

“Kesabaran (pekerja) milenial sangatlah sedikit,” kata David Glickman, CEO perusahaan jaringan virtual bergerak Ultra Mobile di Los Angeles, AS, yang 75 persen pekerjanya merupakan generasi milenial. “Jika mereka tidak mendapatkan (keinginan mereka) sesegera mungkin, mereka akan pindah dan mencari kesempatan lain dengan kemungkinan lebih besar mendapatkan (keinginan mereka) lebih depat,” imbuh Glickman.

Salah satu yang terpenting, mereka perlu tahu persis tentang jenjang karier perusahaan. “(Milenial) ingin berada di tempat mereka bisa mendapatkan lintasan karier sendiri,” kata Mike Maughan, kepala divisi pertumbuhan merek dan wawasan global di Qualtrics.

“Bukan berarti mereka ingin menjadi CEO besok, namun mereka ingin duduk di meja dan merasakan bahwa mereka menjadi bagian dari sesuatu yang penting.”

(riz / gur)

Komentar