Boleh Curhat kepada Anak, Tapi...

Saturday, 9 December 2017 16:30:15 WIB | Rizki Adis Abeba
Boleh Curhat kepada Anak, Tapi... (Depositphotos)

AURA.CO.ID - Ketika orang tua menghadapi masalah rumah tangga berat, apalagi menyangkut perselingkuhan, sering kali menjadikan anak tempat berkeluh kesah, meluapkan amarah, tanpa menyadari batas masalah yang bisa dicerna oleh anak.

“Tidak jarang pihak yang diselingkuhi menceritakan masalahnya kepada anak, sehingga akhirnya anak merasakan hal sama dengan apa yang dirasakan orang tua yang diselingkuhi,” bilang Psikolog Tiara Puspita M.Psi dari rumah konsultasi TigaGenerasi, Jakarta.

Mencurahkan perasaan kepada anak mungkin dapat mendatangkan perasaan nyaman bagi pihak yang diselingkuhi, karena menyadari ia tidak sendirian dan mereka sama-sama menjadi pihak yang disakiti. Apalagi, perselingkuhan sering kali dianggap aib yang tidak perlu diketahui orang lain selain anggota keluarga. 

“Akan tetapi sebaiknya, orang tua tidak menceritakan hal-hal detail terkait perselingkuhan, khususnya jika itu dianggap bisa menjadi cara membalas pasangan yang berselingkuh. Jangan menjadikan anak sebagai sarana untuk menampung kemarahan, kekecewaan, atau perasaan tersakiti orang tua, karena akibatnya anak akan dipaksa menanggung masalah yang belum sanggup ia hadapi,” Tita memperingatkan. 

Lantas apa yang semestinya dilakukan ketika menghadapi prahara perselingkuhan dalam rumah tangga? Ceritakan secara mendetail hanya kepada anak yang usianya telah dewasa, bukan lagi anak-anak atau remaja. Ketika anak sudah dewasa, pola pikirnya dan pendiriannya sudah matang.

Anak juga bisa melihat masalah dari perspektif sendiri sehingga tidak mudah terhasut cerita yang disampaikan salah satu pihak. Namun orang tua harus memberi informasi secara berimbang, tidak mendramatisasi, tidak melebih-lebihkan. 

Boleh Curhat kepada Anak, Tapi... (Depositphotos)

Tita juga menyarankan agar orang tua mempersiapkan anak untuk menghadapi kemungkinan terburuk (seperti perceraian). Usahakan tenang ketika berhadapan dengan anak untuk membicarakan masalah ini. Perilaku orang tua dapat memengaruhi reaksi anak.

“Sadari betul reaksi dan perilaku Anda di hadapan anak, sehingga tidak memicu masalah yang lebih luas,” bilang Tita.

Bagaimana pun, perceraian merupakan kejadian yang membuat stres, traumatis, dan emosional bagi siapa pun yang terlibat.

“Kesabaran, ketenteraman hati, dan kemauan mendengarkan keluh kesah anak akan meminimalkan tensi, selagi anak beradaptasi dengan situasi yang tidak familier itu,” Tita mengakhiri.

(riz / gur)

Komentar