Menyikapi Fenomena “The Power of Emak-Emak”

Saturday, 12 August 2017 19:00:00 WIB | Agestia Jatilarasati
Menyikapi Fenomena “The Power of Emak-Emak” (Depositphotos)

AURA.CO.ID - Beberapa tahun terakhir, media sosial dihebohkan dengan meme bertema “The power of emak-emak”.

Meme itu memperlihatkan besarnya kekuasaan kaum mak-mak. Misalnya, sekelompok ibu di Madiun, Jawa Timur, membubarkan konvoi kelulusan anak SMA atau seorang ibu menyerang petugas Bantuan Kendali Operasi dari Polda Metro Jaya karena tidak terima ditilang.

Bahkan, buaya pun mundur saat menghadapi ibu-ibu yang membawa sandal di tangannya. Semua meme itu viral. Terdengar lucu memang, tetapi publik kemudian bertanya mengapa mak-mak memiliki kekuatan sedemikian besar?

Mengapa Mak Punya Kuasa?

Ibu atau mak yang biasanya digambarkan lemah lembut dan penyayang belakangan menjelma menjadi sosok perkasa, berkuasa, dan terkadang agresif. Psikolog dari Pusat Informasi dan Rumah Konsultasi Tiga Generasi, Anna Margaretha Dauhan mengatakan bahwa secara psikologis seorang ibu memiliki kekuatan tertentu terutama jika berhubungan dengan anak dan keluarga. Dorongan untuk melindungi membuat seorang ibu bersedia melakukan apa saja.

“Di beberapa negara, ibu-ibu yang berdemo untuk memperjuangkan sesuatu terbukti bisa menjadi gerakan massa yang memicu perubahan positif di masyarakat. Misalnya, gerakan ibu di Argentina memprotes anak-anak mereka yang hilang karena rezim politik, berhasil menggulingkan pemerintah yang dinilai korup. Aspek nekat dari ibu-ibu di sana mirip dengan fenomena ‘the power of emak-emak’ yang marak terjadi di Indonesia seperti, mengamuk kepada petugas ketika ditilang atau menyalip kendaraan lain seenaknya.” papar Anna, detail.

Selain faktor kekuatan alami yang ada dalam sosok ibu, faktor tingkat pendidikan memengaruhi sikap mak-mak. Terbatasnya wawasan seseorang berdampak pada ketidakpedulian terhadap suatu hal. Sehingga, mak-mak tidak menyadari ada risiko yang akan diterima ketika melakukan perbuatan buruk. Dalam kasus “the power of emak-emak”, ibu-ibu mungkin melakukan hal nekat bukan karena ingin melindungi seseorang, tapi semata karena tidak sadar akan bahaya dan risiko dari perbuatan mereka.

dok. Instagram

Cara Terbaik Menghadapi Mak-Mak

Jika menilik beberapa meme atau video yang menunjukkan sepak terjang mak-mak terutama ketika berada di jalan, maka kebanyakan dari kita beranggapan bahwa mak-mak itu menyebalkan. Namun, beberapa kasus “the power of emak-emak” tidak melulu menyebalkan. Misalnya, gambar seorang ibu membawa banyak barang dagangan di kendaraan roda dua. Meski melanggar aturan, hal itu dilakukan demi menyokong kondisi finansial keluarga.

Menurut Anna, penilaian seseorang terhadap tokoh ibu atau mak-mak itu tergantung pengalaman pribadi. Ketika seseorang memiliki pengalaman negatif bersama ibu, maka pandangan terhadap mak-mak cenderung negatif. Ia menilai mak-mak itu menjengkelkan, tidak pernah salah, gemar melabrak, dan seterusnya. Jika seseorang memiliki pengalaman positif bersama ibu, maka penilaian terhadap perilaku mak-mak bisa menjadi lebih netral.

Lantas jika bertemu mak-mak nekat, bagaimana kita mesti bersikap? Cara yang paling ampuh menghadapi mak-mak yang ugal-ugalan dalam berkendara atau menyalip antrean adalah menegur langsung meski mungkin mak-mak ini akan bersikap cuek atau malah agresif. Selain itu, pastikan bahwa aturan atau hukum diterapkan secara konsisten. 

Anna menambahkan bahwa mekanisme memberi hukuman biasanya dapat mengubah perilaku mak-mak nekat walau butuh waktu yang tidak sebentar.

“Jadi kalau memang melanggar, perlu ditilang dan diberi hukuman yang sesuai. Di sini, petugas berperan penting untuk memberikan efek jera. Jangan mudah kasihan dan jangan menyerah oleh kecerewetan atau kegalakan ibu-ibu yang tidak terima ditilang,” terang Anna di Jakarta, pekan lalu.

dok. Instagram

Anna menggarisbawahi aspek pemberlakuan hukuman secara konsisten, baik berupa pemberian sanksi, hukuman pidana, maupun sanksi sosial seperti teguran atau reaksi negatif dari masyarakat.

“Biasanya, itu akan membuat seseorang malu jika hendak melakukan kesalahan pada masa mendatang,” demikian Anna mengakhiri perbincangan.

 

(ages / gur)

 

Komentar