5 Profesi Dengan Risiko Depresi Tinggi

Saturday, 12 August 2017 07:00:41 WIB | Rizki Adis Abeba
5 Profesi Dengan Risiko Depresi Tinggi (Depositphotos)

AURA.CO.ID - Isu depresi semakin nyata setelah rentetan kejadian kasus bunuh diri yang terjadi belakangan.

Depresi bisa disebabkan banyak hal. Selain trauma, konflik tidak berkesudahan, juga bisa dipicu stres di tempat kerja. Beberapa profesi bahkan disebut-sebut memiliki kecenderungan tinggi memicu stres dan depresi.

“Ada beberapa aspek dalam profesi tertentu yang bisa berkontribusi dalam memperparah tingkat depresi pada seseorang,” kata Deborah Legge, PhD, psikolog yang juga konselor kesehatan mental berlisensi di New York, AS. 

Dalam studi di Britania Raya yang dilansir laman therichest.com, disebutkan bahwa profesi dengan tingkat risiko depresi tertinggi adalah profesi yang berhubungan dengan pelayanan publik.

Pekerja di pelayan publik berpotensi mengalami konflik karena harus berurusan dengan orang dengan beragam karakter. Tentu saja, hal ini juga bergantung pada ketahanan mental, lingkungan yang sehat, serta kondisi kesehatan fisik para pekerja.

Sehingga jika Anda menggeluti salah satu profesi di bawah ini, Anda dituntut lebih waspada. Apa saja profesi dengan tingkat risiko depresi tinggi?

Pengemudi kendaraan umum

Pengemudi transportasi umum menjadi profesi dengan peluang depresi yang tinggi, sebesar 16,2 persen. Penyebabnya, para pengemudi harus berurusan dengan lalu lintas yang tidak bersahabat, penumpang yang kasar, dan penghasilan yang tidak tinggi.

Mereka juga bekerja dengan jam kerja panjang dan melewati rute yang sama setiap harinya. Faktanya, pengemudi transportasi umum juga sering menjadi korban kekerasan fisik dan verbal yang dilakukan penumpang. 

Perawat

5 Profesi Dengan Risiko Depresi Tinggi (Depositphotos)

Dalam survey yang dilakukan oleh laman kesehatan health.com, profesi perawat menempati profesi dengan tingkat risiko depresi tinggi.

Sebanyak 11 persen dari orang yang menekuni profesi perawat pernah mengalami depresi. Penyebabnya, hari-hari perawat dilalui dengan mengurusi orang sakit, mulai memberi makan, memandikan, memberikan obat.

“Mereka (pasien) jarang berterima kasih atau memberikan apresiasi kepada perawat, bisa jadi karena kondisinya sakit atau memang tidak terbiasa melakukannya,” kata Christopher Willard, psikolog klinis di Universitas Tufts di Massachusetts, AS, yang juga penulis buku psikologi anak, Child's Mind.

“Melihat orang sakit secara terus menerus dan tidak mendapatkan respon positif sangatlah membuat stres,” imbuh Willard. Di perparah lagi dengan adanya shift malam.

Pramusaji restoran

Pramusaji restoran juga masuk dalam daftar profesi paling memicu depresi dengan peluang sebesar 10 persen. Penghasilan rendah, pekerjaan melelahkan –harus sigap berdiri dan mondar-mandir mengantar pesanan dan membereskan meja-- ditambah kemungkinan dimarahi pelanggan yang tidak puas membuat 15 persen dari perempuan yang menggeluti profesi ini pernah mengalami depresi.

“Ini adalah pekerjaan yang minim ucapan terima kasih,” kata Legge.

“Orang bisa sangat kejam dan pekerjaan ini sangat menguras tenaga. Ketika orang derpesi, sulit mendapatkan energi dan motivasi sehingga pekerjaan ini bisa terasa sangat berat,” terang Legge.

Pekerja sosial

Pekerja sosial identik dengan kegiatan membantu sehingga diperlukan empati yang tinggi terhadap orang lain. Akan tetapi, ketika seseorang menjalani profesi sebagai pekerja sosial dengan sepenuh hati, terkadang mereka terlalu memikirkan orang lain lebih dari diri sendiri.

Ini sebabnya pekerja sosial pun rentan terkena depresi dengan peluang sebesar 14 persen. Pekerja sosial juga terlalu sering terpapar oleh kasus dan kisah memilukan dari para klien yang berdampak pada kesehatan mental mereka sendiri.

Konsultan keuangan

Mengatur uang memang bukan urusan mudah. Apalagi terkait keuangan orang lain. Ini sebabnya profesi konsultan keuangan masuk ke dalam jajaran pekerjaan yang dapat memicu depresi.

“Tanggungjawab yang besar terhadap kondisi finansial orang lain menimbulkan perasaan bersalah. Dan ketika klien kehilangan uangnya, mereka mungkin akan menyalahkan konsultan keuangan atas kegagalan itu,” ungkap Legge.

Stres dan depresi yang dialami konsultan keuangan biasanya terjadi jika mereka salah memberikan nasihat dan strategi terutama dalam urusan investasi sehingga mengakibatkan kerugian pada klien mereka.

 

(riz / gur)

 

Komentar