Gangguan Perilaku pada Remaja yang Main Ponsel sebelum Tidur

Saturday, 12 August 2017 10:00:46 WIB | Rizki Adis Abeba
Gangguan Perilaku pada Remaja yang Main Ponsel sebelum Tidur (Depositphotos)

AURA.CO.ID - Penggunaan teknologi, terutama ponsel, oleh remaja saat ini sulit dicegah. Sebab itulah penting bagi orang tua, selain mengawasi konten dan aplikasi di ponsel mereka, membatasi waktu mereka dalam menggenggam ponsel.

Studi Universitas Murdoch dan Universitas Griffith di Australia menunjukkan kaitan antara penggunaan ponsel saat malam dan meningkatnya kasus gangguan perilaku pada remaja.

Berdasarkan hasil penelitian terhadap seribu remaja Australia selama lebih dari 4 tahun, Dr. Lynette Vernon, profesor psikologi yang memimpin penelitian di Universitas Murdoch, mengatakan, “Ponsel telah mengakar di kehidupan pemuda dan kebanyakan dari mereka menggunakannya tanpa batas.”

Dijabarkannya, 80 persen pelajar di kelas 11 atau 3 SMP tetap menggunakan ponsel setelah lampu kamar tidur dimatikan. 

Data ini didukung penelitian Organisasi Kesadaran Digital Inggris terhadap 2.750 remaja berusia 11 hingga 18 tahun. Terungkap bahwa 45 persen remaja masih main ponsel di tempat tidur, dengan 32 persen di antaranya melakukannya tanpa sepengetahuan orang tua.

Dari jumlah terakhir, hampir semua atau tepatnya sebanyak 94 persen remaja membuka akun media sosial dan sepersepuluhnya stres jika tidak mengecek ponsel sebelum tidur.

Memicu Gangguan Perilaku

Gangguan Perilaku pada Remaja yang Main Ponsel sebelum Tidur (Depositphotos)

Remaja butuh tidur malam berkualitas 8 hingga 10 jam sehari. Sedangkan penggunaan ponsel dapat mengganggu anak dengan dua cara.

Pertama, lampu terang layar ponsel mengganggu ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Cahaya gelap merangsang tubuh melepas hormon melatonin yang menciptakan rasa kantuk, sedangkan cahaya ponsel menghambatnya sehingga jam biologis tubuh terganggu.

Kedua, pesan-pesan yang diterima ke ponsel pada waktu tidur malam memicu gairah kognitif dan emosional pada otak sehingga otak terus bekerja. 

Penggunaan ponsel saat malam menyebabkan gangguan tidur yang dampaknya merembet ke masalah depresi, gangguan lainnya.

“Pola tidur mereka lebih buruk dan ini berkaitan dengan memburuknya kesehatan, turunnya kemampuan dalam mengatasi masalah, berkurangnya kemampuan menyerap pelajaran, turunnya kepercayaan diri, meningkatnya mood depresi, juga meningkatnya perilaku agresif dan kenakalan,” urai Dr. Vernon yang pernah berprofesi sebagai guru SMA.

Ini sebabnya, Vernon menyarankan agar orang tua dan guru di sekolah bekerja sama melakukan “detoksifikasi digital”. Guru harus lebih peka terhadap gejala-gejala gangguan perilaku remaja yang kemungkinan dipicu penggunaan ponsel secara berlebihan terutama saat malam.

“Jika Anda melihat suasana hati anak berubah-ubah dan tidak bisa mengikuti pelajaran sekolah dengan baik, bisa jadi akibat mereka kurang tidur saat malam,” ujar Vernon. Dan salah satu penyebab kurang tidur itu kemungkinan besar penggunaan ponsel. 

Organisasi Kesadaran Digital Inggris menyarankan agar orang tua membiasakan anak mengurangi penggunaan ponsel setidaknya 90 menit sebelum waktu tidur dan menggantinya dengan kegiatan berkualitas seperti membaca buku atau bercengkerama dengan keluarga.

Mencegah penggunaan ponsel malam hari juga bisa dilakukan dengan mengaktifkan pengaturan senyap agar anak tidak tergoda membuka ponsel karena mendengar nada notifikasi dan meletakkan ponsel di tempat yang sulit dijangkau anak dari tempat tidur. 

Vernon menekankan pentingnya orang tua memberi contoh tentang penggunaan ponsel yang sehat.

“Ketika anak berusia 7 hingga 10 tahun, Anda harus menjadi panutan. Letakkan ponsel saat malam dan jangan bawa ke kamar tidur. Ini akan menjadi hal yang lumrah dalam rumah tangga dan lebih mudah diterapkan pada anak,” tegas Vernon.

 

(riz / gur)

 

Komentar